APA ARTI KEMERDEKAAN BAGI ANDA?*)

Pertanyaan tersebut sering kita dengar setiap tahun, menjelang hari ulang tahun kemerdekaan negara kita. Pertanyaan itu biasanya diajukan oleh para reporter media massa, dalam bentuk lisan dan tulisan, kepada berbagai macam lapisan masyarakat, mulai dari anak-anak sampai orang tua, dari masyarakat kelas bawah sampai kelas elit. Jawaban yang kita dengar pun bervariasi, bergantung pada kerangka pemikiran dan kerangka pengalaman orang yang menjawabnya. Jika pertanyaan tersebut kita ajukan kepada seorang siswa sekolah dasar, jawabannya bisa dipastikan, kemerdekaan artinya bebas dari belenggu penjahan bangsa Belanda dan Jepang. Bagi seorang istri atau ibu rumah tangga, jawabannya mungkin, kebebasan untuk mengelola biaya rumah tangga tanpa campur tangan suami. Bagi seorang istri yang juga wanita karier, jawabannya mungkin, kebebasan untuk mengaktualisasikan diri dalam dunia kerja sesuai dengan pendidikan yang pernah ia tempuh. Bagi seorang suami, jawabannya mungkin, kebebasan untuk bertindak dan melangkah tanpa perlu memberitahu atau minta pendapat istri. Bagi orang tua, jawabannya mungkin, kebebasan untuk menentukan apa yang terbaik bagi putra-putrinya dalam segala hal.

Jika pertanyaan itu diajukan kepada saya, terus terang saya akan menjawab seperti anak sekolah dasar, kemerdekaan artinya bebas dari belenggu penjajahan pihak lain. Mengapa? Karena kata kemerdekaan tidak pernah memunyai arti khusus bagi saya. Saya hanya mengenal kata itu dalam pelajaran sejarah di bangku SD. Entah karena penyajian materi pelajarannya kurang menarik, atau karena ketidakmengertian saya akan pelajaran tersebut, atau juga karena tidak mengalami sendiri proses perjuangan bangsa Indonesia untuk meraih kemerdekaan, maka kata kemerdekaan tidak dapat saya maknai dengan lebih baik dari dulu sampai akhir bulan lalu. Anehnya, memasuki bulan Agustus tahun ini, saya tiba-tiba terusik untuk mencari jawaban dari pertanyaan di atas. Saya mencoba mencari jawaban tentang apa arti kemerdekaan bagi saya.

Pengertian Kemerdekaan

Kata kemerdekaan berasal dari kata dasar merdeka. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dapat kita temukan bahwa arti kata merdeka adalah: 1) bebas dari perhambaan, penjajahan, dsb., berdiri sendiri; 2) tidak terkena atau lepas dari tuntutan; 3) tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu. Sedangkan kemerdekaan adalah keadaan (hal) berdiri sendiri (bebas, lepas, tidak terjajah lagi); kebebasan. Berdasarkan pengertian di atas saya mencoba menerapkan kata merdeka pada diri saya sendiri. Sudahkah saya merdeka? Jika dilihat dari pengertian pertama (bebas dari perhambaan, penjajahan, berdiri sendiri), sebagai seorang wanita, saya merasa, kadang-kadang, masih terjajah oleh keinginan-keinginan duniawi seperti pakaian dan aksesori pelengkapnya. Saya masih dibelenggu hawa nafsu saya untuk memiki barang lebih banyak dari yang saya butuhkan. Saya belum belum bebas dari penjajahan hawa nafsu saya sendiri, berarti saya belum merdeka! Dilihat dari pengertian kedua (tidak terkena atau lepas dari tuntutan), saya tidak bisa lepas dari tuntutan kewajiban seumur hidup, baik sebagai anak, istri, ibu, dan anggota masyarakat. Lagi-lagi, saya belum merdeka! Dilihat dari pengertian ketiga pun (tidak terikat, tidak bergantung kepada pihak tertentu), saya bukan orang merdeka. Sebagai seorang anak, saya masih memerlukan pendapat, saran, dan dukungan dari orang tua saya. Sebagai seorang istri, saya sangat membutuhkan perhatian, kasih sayang, dan dukungan suami. Sebagai seorang ibu, saya juga memerlukan kasih sayang dan dukungan anak-anak saya. Sebagai anggota masyarakat, saya juga membutuhkan hubungan pertemanan, persahabatan dengan anggota masyarakat lainnya. Saya masih membutuhkan orang-orang tertentu dalam kehidupan saya. Jika demikian, di mana letaknya kemerdekaan diri saya, kemerdekaan pribadi saya?

Pengertian Diri/Pribadi

Pengertian diri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah: 1) orang seorang (terpisah dari yang lain), badan; 2) tidak dengan yang lain; 3) pelengkap kata kerja yang menyatakan bahwa penderitanya atau tujuannya adalah badan sendiri. Sedangkan pengertian pribadi adalah: 1) manusia sebagai perorangan (diri manusia atau diri sendiri); 2) keadaan manusia sebagai perseorangan, keseluruhan sifat-sifat yang merupakan watak orang. Jika dihubungkan dengan kata kemerdekaan, maka pengertian kemerdekaan diri bisa diartikan sebagai kebebasan diri sendiri —- dengan keseluruhan sifatnya sebagai manusia — dari kebergantungan pada pihak lain. Untuk mengetahui ada atau tidaknya kebergantungan kita kepada orang lain, yang harus kita lakukan lebih dahulu adalah mengetahui kelebihan dan kekurangan diri.Dengan kata lain, kita harus mengenali diri kita dahulu. Bagaimana cara kita mengenali diri? Cara mengenali diri berikut ini saya ketahui dari kursus pengembangan diri yang pernah ada di kota Bandung, yang menyebutkan bahwa pengenalan diri merupakan tahap awal dari proses pengembangan diri. Pengenalan diri dimulai dengan mendata diri secara jujur, sifat-sifat positif negatif yang kita rasakan atau miliki. Kemudian kita harus mengupayakan umpan balik dari seseorang yang dapat kita percaya (orang tua, sanak saudara, kerabat, sahabat, guru, dll) untuk mendapatkan konfirmasi yang jujur pula tentang sifat-sifat kita. Selanjutnya kita harus menerima kenyataan dengan lapang dada hasil konfirmasi tersebut, dan kita jadikan sebagai titik awal untuk memaksimalkan sifat-sifat positif dan meminimalkan sifat negatif kita. Dari uraian tentang cara mengenali diri, kita dapat melihat bahwa untuk mengenali diri kita sendiri pun kita masih memerlukan konfirmasi dari orang lain. Dengan kata lain, kita masih bergan tung kepada pihak lain. Kita belum merdeka! Lagi-lagi kita bertanya, dimana letak kemerdekaan diri kita?

Kemerdekaan Diri Sendiri

Menurut ajaran Islam yang saya pahami dan yakini, manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT memunyai fitrah (titik asal, kesucian, bakat, pembawaan, KBBI) yang positif. Kita juga dibekali akal, perasaan, dan keinginan. Akal, perasaan, dan keinginan kitalah yang menjadi faktor-faktor yang akan tetap memositifkan atau menegatifkan diri kita, di samping beberapa faktor lain seperti: pendidikan, situasi dan kondisi keluarga, lingkungan tempat kita bersosialisasi. Keinginan yang ada dalam diri kita disebut juga nafsu (keinginan, kecenderungan hati yang kuat, KBBI), baik lahiriah maupun batiniah. Memunyai nafsu untuk memperoleh kehidupan lahiriah dan batiniah yang cukup merupakan hal yang wajar bagi kita. Tetapi nafsu untuk memperoleh lebih banyak dan lebih banyak lagi dari yang telah kita peroleh dan miliki, nafsu yang tidak pernah cukup, merupakan hal yang tidak wajar. Pada saat itu yang ada dalam diri kita bukan lagi nafsu, tetapi hawa nafsu (desakan hati atau keinginan yang keras untuk menurutkan hati, melepaskan marah, dsb , KBBI). Hawa nafsu untuk mendapatkan lebih banyak dan lebih banyak lagi dari yang telah kita peroleh akan terus membelenggu kita selama kita tidak berusaha untuk bebas darinya. Selama itu pula kita tidak akan pernah meraih kemerdekaan diri. Hal lain yang saya pahami dan yakini adalah, jalan hidup kita di dunia ini bergantung kepada kehendak Allah. Tetapi kehendak Allah juga bisa berubah setiap saat bergantung usaha kita dalam melaksanakan perintah-Nya, mengenal dan mendekati-Nya serta mencari ridla-Nya.Kita bisa melaksanakan perintahnya, karena kita sudah terbiasa sejak kecil dengan semua itu. Tetapi untuk mengenal dan mendekati Allah kita perlu penjelasan lain. Apalagi kita tahu bahwa kita tidak akan pernah bisa mengenal Allah, sebelum kita bisa mengenali diri kita sendiri. Dalam usaha mengenali diri sendiri, karena keterbatasan referensi, kita kembali kepada cara mengenali diri yang pernah saya ketahui. Dilihat dari teorinya, mengenali diri dengan cara mendata diri, mengupayakan umpan balik, mendapat korfirmasi, dan menerima kenyataan, tidaklah berat, tidak sulit.Tetapi jika kita praktikkan, ternyata berat dan sulit sekali!Karena ada tuntutan untuk membuka dan mengungkapkan diri secara jujur! Mampukah kita mendata secara jujur sifat/hal positif dan negatif yang ada dalam diri kita? Mampukah kita mengupayakan dan menerima umpan balik dari pihak lain, sekalipun ia adalah orang kita cintai? Mampukah kita menerima kenyataan dengan berlapang dada, bahwa diri kita tidak seperti yang kita bayangkan/rasakan? Dengan menganalogikan jargon “Kita bisa kalau kita mau”, seharusnya kita mampu/bisa melaksanakan itu semua kalau kita mau melakukannya, bukan? Semuanya bergantung pada diri kita sendiri.

Bukan hal yang mudah bagi kita untuk mendata satu-persatu secara jujur, hal-hal positif dan negatif yang kita miliki. Sebagai contoh, kita merasa diri kita hemat, lalu kita letakkan kata ‘hemat’ dalam kolom sifat positif. Tetapi pada sisi lain, kita juga merasa bahwa walaupun koleksi pakaian, tas, sepatu dan perhiasan kita sudah cukup, kita masih suka menambah koleksi barang-barang tersebut karena ingin disebut orang yang mengikuti mode. Kita jadi konsumtif. Kalau mau jujur, kita harus menghapus kata ‘hemat’ dalam kolom sifat positif dan memasukkan kata ‘boros’ dalam kolom sifat negatif. Perlu perjuangan batin yang berat untuk melakukannya. Pada tahap berikutnya, kita harus mengupayakan umpan balik dari orang lain. Pada tahap ini kita juga terbentur pada perasaan kita yang tidak ingin dan tidak suka dinilai oleh orang lain serta tidak percaya pada penilaiannya, walaupun dia adalah orang yang kita cintai dan tahu persis bagaimana kehidupan kita. Sekali lagi kita perlu perjuangan berat untuk melaluinya. Apalagi setelah itu kita harus mau menerima kenyataan bahwa sedikit banyak akan terdapat perbedaan antara apa yang kita rasakan dan dia rasakan. Lagi-lagi, dengan perjuangan batin yang berat, kita lalui tahap tersebut. Dalam usaha kita untuk mengenali diri, kita lalui setiap tahap dengan perjuangan batin yang berat. Perjuangan batin untuk melawan ketidakinginan atau ketidaksediaan kita untuk membuka diri, menyatakan apa adanya diri kita secara jujur dan menerima dengan ikhlas penilaian orang lain tentang kita. Perjuangan untuk melawan hawa nafsu kita, perjuangan untuk membebaskan diri dari belenggu hawa nafsu. Perjuangan untuk meraih kemerdekaan diri! Tetapi ketika kita berhasil mengalahkan hawa nafsu kita, kita merasakan kebahagiaan dan kenikmatan yang tiada tara, yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Kebahagiaan karena keberhasilan kita dalam melepaskan belenggu hawa nafsu, kebahagiaan karena berhasil meraih kemerdekaan diri dari penjajahan hawa nafsu, kemerdekaan diri yang sejati! Dari uraian tersebut, akhirnya saya mendapatkan makna yang lebih baik tentang kemerdekaan. Kemerdekaan diri saya tidak lagi sekadar bebas dari belenggu penjajahan pihak lain, tetapi bebas dari belenggu penjajahan pihak lain yang ada dalam diri saya yaitu hawa nafsu dalam diri saya sendiri. Saya harus mempertahankan kemerdekaan diri saya ini seumur hidup, karena saya tahu akan ada penjajahan hawa nafsu yang lain dalam diri saya.

Tulisan ini merupakan bentuk kemerdekaan diri saya dalam arti lain, seperti yang sering kita dengar, kemerdekaan untuk menyatakan pikiran dan pendapat. Seperti teks dalam iklan di media massa, selanjutnya…… terserah Anda! Atau seperti, yang pernah saya dengar dalam salah satu ceramah Bapak Jalaluddin Rakhmat, kata penyair eksistensialis Perancis Charles Baudelaire: A votre chose, a votre guise, terserah pilihan Anda! Andapun memiliki kemerdekaan sendiri, bukan?

*) Tulisan ini pernah dimuat di HU Pikiran Rakyat, 16 Agustus 2002

1 Response so far »

  1. 1

    yupi said,

    thank’s ah izin copas wat TUGAS DI ckuool…..


Comment RSS · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: