pindah blog

salam…

mulai  akhir desember lalu, blog saya pindah ke http://remakaryanti.com

kunjungi blog tersebut untuk melihat tampilan dan update tulisan terbaru saya

terima kasih

Leave a comment »

KASIH IBU (KENANGAN KEPADA ALMARHUMAH IBU TERCINTA)*

Kasih ibu kepada beta
Tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi
Tak harap kembali
Bagai sang surya menyinari dunia

Setiap saya mendengar lagu itu, hati saya selalu terenyuh. Apalagi saat sekarang ini, di bulan Syawal, beberapa hari setelah seluruh umat Islam di dunia merayakan hari idul fitri, hari berkumpul seluruh keluarga dalam suasana suka cita. Mengapa? Karena hari raya kali ini adalah hari raya yang ketiga kalinya, kami sekeluarga tidak lagi berkumpul dan bergembira bersama ibunda tercinta, yang telah meninggalkan kami semua pada tanggal 20 Desember 1998.
Sesak rasanya dada saya mendengar lagu itu. Saya teringat kepada almarhumah ibu dengan segala bentuk kasih sayangnya kepada saya. Apa yang telah saya berikan kepada almarhumah semasa hidupnya untuk membalas kasih sayangnya kepada saya? Rasanya baru sedikit sekali.Tidak akan mampu untuk membalas semua kasih sayang yang beliau berikan. Berbahagialah Anda yang masih mempunyai ibu dan masih berkesempatan untuk membalas kasih sayang ibu Anda.

Saya jadi merenung, mengingat kembali betapa banyak dosa yang telah saya lakukan kepada beliau semasa hidupnya. Betapa banyak ucapan dan tindakan saya yang membuat beliau sakit hati dan bersedih, seperti yang sering beliau ungkapkan kepada sanak saudara. Dulu saya sering menganggap remeh perkataan beliau. Sekarang, saya sangat merindukan ucapan dan nasihat sederhana beliau tentang kehidupan. Saya merindukan ketajaman mata beliau yang selalu bisa melihat dan mengetahui bahwa saya sedang menghadapi masalah. Saya merindukan ucapannya yang khas, dalam bahasa Minang, bila ia sedang mengungkapkan isi hatinya yang terdalam.

Saya juga teringat kebersamaan kami pada dua tahun terakhir kehidupannya, mulai dari berobat ke dokter umum, dokter spesialis, masuk rumah sakit, sampai pada detik-detik terakhir beliau menghembuskan nafasnya. Dan, yang paling membuat hati saya terenyuh sekaligus bersyukur ke hadirat Allah Swt adalah, saya diberi kesempatan oleh Allah Swt untuk melepas kepergian beliau yang begitu tenang dan pasrah dalam menyongsong maut Hanya saya! Satu-satunya putri beliau — di samping seorang adik perempuan, menantu perempuan, dan keponakan perempuan — yang diberi kesempatan untuk menyaksikan dan mengambil hikmah dari proses bagaimana seorang manusia menghadapi sakaratul maut.

Pada waktu itu saya sering mempertanyakan dalam hati, mengapa hanya saya yang diberi kesempatan oleh Allah Swt untuk mengantar kepergian beliau. Mengapa bukan ayah kami, satu-satunya pria yang beliau cintai, yang melepas kepergiannya? Mengapa bukan kakak perempuan saya, anak perempuan pertama yang sangat beliau sayangi? Saya kemudian mengarang jawaban sendiri. Mungkin karena sayalah yang di akhir masa hidupnya selalu mendampingi urusan sakit beliau, baik ke dokter maupun ke rumah sakit. Pertanyaan saya pun terjawab.
Tapi hari ini, setelah mendengar lagu Kasih Ibu berkumandang, saya menemukan jawaban lain. Peristiwa itu adalah bentuk kasih sayang terakhir dan sepanjang masa yang beliau berikan kepada saya. Anda tentu bertanya, apa hubungannya kematian seorang ibu dengan kasih sayangnya kepada anak? Saya coba untuk menjelaskannya kepada Anda.

Sejak ibu saya meninggal, saya tidak dapat lagi merasakan kasih sayang beliau secara lahir. Saya tidak dapat lagi merasakan perhatian ibu saya ketika saya sedang menghadapi masalah. Saya tidak dapat lagi mendengar nasihat beliau yang sederhana tetapi dalam maknanya tentang kehidupan berumah tangga. Sekarang saya hanya bisa merasakan kasih sayang ibu saya secara batin melalui hikmah yang saya dapatkan ketika saya menyaksikan beliau menghadapi sakaratul maut. Itulah kasih sayang terakhir beliau kepada saya. Dengan izin Allah, diperlihatkannya kepada saya bagaimana proses ia kembali kepada-Nya, supaya saya berpikir dan mengambil hikmah dari peristiwa itu.

Dalam benak saya waktu itu, seperti yang sering saya dengar dari orang, kematian adalah suatu proses yang menyakitkan bagi pelakunya dan menakutkan bagi yang melihatnya. Walaupun saya pernah menyaksikan proses kematian ibu mertua saya sepuluh tahun sebelumnya, saya tidak dapat membayangkan bagaimana saya mampu menyaksikan kepergian ibu saya menghadap-Nya. Ketika ibu mertua saya meninggal, ada ayah mertua dan kerabat lain yang mendampinginya. Sehingga saya sendiri pada waktu itu hanya menjadi pelengkap penderita. Sementara ketika ibu saya meninggal , hanya ada saya dan kerabat lain yang mendampingi. Saya yang mengingatkan beliau untuk berzikir, mengingat dan menghadapkan hati kepada Nya.

Pada saat ibu saya menghembuskan nafas terakhir, saya tidak melihat sesuatu yang menakutkan, seperti yang sering saya dengar dari orang. Saya tidak mendengar suara orang yang tersedak atau tercekik. Saya tidak mendengar suara orang yang mendengkur (ngorok). Saya bahkan tidak tahu kapan nafas ibu saya berhenti. Karena beberapa detik sebelumnya, dokter mengatakan nafas ibu masih ada. Beliau malah menyarankan saya untuk terus membimbing ibu saya berzikir. Pada saat itulah saya menyempatkan diri untuk berbicara kepada ibu saya tentang kerelaan saya melepas beliau untuk pergi, memohon maaf kepada beliau atas kekurangan dan kekhilafan saya dalam merawat beliau selama ini. Saya bisikkan kata-kata itu di telinganya. Lalu apa yang terjadi? Ketika saya mengakhiri bisikan saya, dokter menyatakan bahwa ibu saya telah berpulang. Inna lillahi wa inna lillah rojiun. Betapa damainya kepergian ibu saya.
Almarhumah ibu saya adalah seorang perempuan yang sangat berkecukupan, bahkan berlebih, dalam hal materi. Semua yang diinginkan perempuan dalam kehidupan seperti pakaian bagus, perhiasan mahal, tas dan sepatu mahal, rumah indah, dan mobil bagus, beliau miliki. Tetapi apa yang beliau bawa dalam menghadap kepada Nya? Semua harta yang beliau miliki, beliau tinggalkan. Apa yang beliau miliki sehingga beliau begitu tenang dan pasrah menghadap-Nya?

Pertanyaan inilah yang saya maksudkan sebagai bentuk kasih sepanjang masa dari seorang ibu kepada anaknya. Pertanyaan yang merupakan pelajaran tersendiri bagi saya. Dalam persepsi saya sebagai seorang anak, peristiwa ini adalah bentuk kasih sayang ibu saya sepanjang masa kepada saya sebagai anaknya. Kasih sayang dalam bentuk nyata, yang akan selalu mengingatkan saya tentang bagaimana saya harus berperilaku selama hidup di dunia ini, agar saya dapat menyongsong kehidupan di dunia akhirat dengan tenang dan pasrah, seperti yang saya saksikan ketika beliau menghadapi sakaratul maut.

Saya yakin, Anda akan bertanya apa penyakit ibu saya? Atau, bagaimana proses ibu saya menyongsong maut? Saya coba untuk sedikit bernostalgia kehidupan keluarga kami, dengan terlebih dahulu memohon maaf kepada ayah saya yang mungkin akan membaca tulisan ini. Apapun yang saya ungkapkan, semata-mata hanya untuk memperkaya wawasan pembaca tentang salah satu sisi kehidupan keluarga, yang mungkin tidak hanya terjadi di keluarga kami, tetapi juga terjadi di keluarga Anda.

Seperti yang telah saya ungkapkan, ibu saya memiliki semua yang didambakan oleh seorang perempuan dalam kehidupan. Tetapi satu hal yang paling tidak diinginkan perempuan pun, berbagi suami dengan perempuan lain, beliau miliki! Lebih dalam hal materi, kurang dalam hal moril. Pepatah Minang mengatakan, dapek nan dihati ndak dapek nan kato hati. Dapat yang diinginkan (materi), tapi tidak dapat yang menurut kata hati (moril). Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Yang sempurna, bahkan Maha Sempurna, hanyalah penciptanya, Allah Swt.

Hal itu tidak terjadi hanya sekali dalam hidup kami. Yang pertama terjadi ketika saya menginjak usia remaja. Dan yang kedua kalinya adalah ketika saya sudah berkeluarga. Syukur alhamdulillah, almarhumah ibu diberkahi Allah dengan kesabaran yang luar biasa. Dengan kesabarannya, kami dapat terus bertahan dalam satu keluarga yang utuh. Beliau tidak menuntut perceraian karena memikirkan nasib kami, enam orang putra-putrinya yang sedang menginjak masa dewasa dan remaja. Bahkan, ketika kami semua sudah berkeluarga, beliau harus mau menerima kenyataan bahwa ayah kami mempunyai seorang anak dari istrinya yang lain, yang seusia dengan cucunya, anak bungsu saya!
Segala penderitaan batinnya beliau simpan dalam hati, walaupun hal itu kemudian mengakibatkan dirinya menderita penyakit lever kronis. Penyakit hati! Penyakit lahir yang disebabkan oleh penyakit batin! Sejak tahun 1984, almarhumah diketahui mengidap tumor jinak di lever. Untuk itu beliau harus melalukan kontrol rutin ke dokter spesialis penyakit hati. Kami dinasihati dokter untuk selalu menjaga perasaan ibu kami, menyenangkan hatinya dan tidak membuatnya kelelahan.

Penyakit ini memang tidak menunjukkan gejala fisik yang luar biasa. Ibu kami kelihatannya sehat-sehat saja. Sesekali, ketika beliau terlalu banyak memendam perasaan, penyakitnya terasa. Karena itu, ketika suasana hatinya baik-baik saja, beliau agak lalai memeriksakan diri ke dokter. Baru pada tahun 1991, ketika beliau harus kembali berbagi suami, penyakit levernya sering terasa. Anda tentu maklum bagaimana perasaan seorang perempuan yang dimadu. Sampai akhirnya pada tahun 1997 beliau menderita batuk dan diare terus menerus, serta berat badannya terus menyusut. Ternyata, tumor jinak yang kemudian berubah menjadi sirosis itu, telah menjadi kanker. Bahkan oleh dokter, almarhumah divonis hanya akan mampu bertahan 6 bulan! Sekali lagi, kami disarankan dokter untuk selalu menjaga kondisi tubuhnya baik, menjaga perasaannya, menyenangkan hatinya dengan mengikuti apa saja yang beliau inginkan.

Manusia boleh berencana, tapi Allah jua yang menentukan. Alhamdulillah, ibu saya masih diberi usia panjang. Sejak divonis pada bulan Maret 1997, ibu dapat bertahan sampai bulan Desember 1998. Selama berobat ke dokter spesialis kanker, beliau sempat dirawat dua kali di rumah sakit Pada waktu dirawat kedua kalinya, setelah bertahan dua minggu, beliau menghembuskan nafas terakhir.

Saya masih ingat dengan jelas peristiwa hari itu, hari Minggu, 1 Ramadhan 1419 H (20 Desember 1998). Hari Sabtu sore sampai malam harinya, saya masih berada di rumah sakit. Sebenarnya malam itu giliran saya untuk jaga malam. Tapi saya juga dihadapkan pada kenyataan bahwa anak bungsu saya dan seorang keponakan yang tinggal di rumah kami, akan mulai belajar berpuasa. Saya merasa sahur pertama mereka harus saya temani. Untunglah ada adik perempuan saya yang sedang berada di Bandung. Ia menawarkan diri untuk jaga malam menemani ibu kami.
Ketika saya dan suami pamit pulang, kami sempat mohon maaf karena akan menghadapi dan memulai puasa. Waktu itu, beliau malah balik minta maaf kepada suami saya karena merasa telah merepotkan saya dengan sakitnya beliau. Saya sangat terharu mendengar perkataan ibu Saya sama sekali tidak menyangka beliau mempunyai perasaan seperti itu, bahkan mau minta maaf kepada suami saya. Kami pun pulang dengan perasaan tak menentu.

Keesokan harinya, sekitar pukul 12 siang, saya dipanggil ibu untuk menjenguk dan menghubungi dokter karena beliau merasa kesakitan. Saya sendiri di rumah, entah mengapa, sedang merasakan sakit dan linu di sekujur tubuh sehingga tidak segera datang menjenguk beliau. Baru pada pukul 13 lebih, saya bisa datang menjenguk ibu. Apa yang saya saksikan pada waktu itu? Tidak seperti biasanya, walaupun kulitnya sudah mulai menguning, ibu saya tampak cantik dan segar, berdandan rapi, lengkap dengan lipstik. Rupanya beliau minta didandani oleh adik saya, minta pakai baju hitam, minta dibedaki, dan minta lipstik merah, kesukaannya.

Ketika melihat saya datang, beliau minta dipanggilkan dokter karena beliau kesakitan. Setelah saya menelepon dokter, beliau tampak tenang, dan berkata bahwa beliau sudah pasrah untuk kembali kepada Allah karena ayah kami telah menjanjikan sesuatu, yang membuatnya pasrah. Saya tahu betul apa yang beliau inginkan, dan saya pun telah mendengar janji ayah saya tentang hal itu. Pada saat itu, di antara keluarga inti kami, memang hanya ada saya di sisi ibu. Ayah beserta saudara saya yang lain sudah pulang, dan sedang berkumpul di rumah, menyelesaikan masalah lain dalam keluarga kami.

Pada pukul 15 sore, sesuatu mulai berproses. Ibu saya tampak kegerahan, minta dihidupkan ac kamar. Padahal waktu itu ac kamar hidup, dengan suhu di bawah 20 derajat Celcius. Saya bingung melihat ibu saya membuang selimut karena kepanasan. Saya bingung, karena selama 2 minggu di rumah sakit, tidak pernah sekalipun ibu meminta ac kamar dihidupkan. Saya kemudian menelepon dokter dan ayah saya di rumah untuk segera datang. Ketika ibu saya kelihatan sesak, dokter jaga memberikan zat asam untuk membantu pernafasan beliau. Saya mulai panik melihat ibu saya sesak, dan tubuhnya mulai mendingin, serta matanya memandang ke atas, ke satu arah. Saya pikir, inikah saatnya ibu pergi?.
Saya berusaha mengingatkan ibu saya untuk tetap berzikir sambil menangkupkan kedua belah tangan dan menutupkan matanya. Anehnya, mata beliau yang sebelah kanan belum menutup penuh, seperti mengintip saya.

Tiba-tiba saya teringat ucapan kakak saya yang mengatakan bahwa ibu sempat bersedih hati karena saya marahi. Astagfirullah, saya memang sempat berkata agak keras kepada ibu saya, seminggu yang lalu. Pada waktu itu, hari sudah larut malam, beliau belum tidur juga. Saya sendiri sudah sangat lelah, sehingga saya berkata agak keras kepada ibu saya, mempertanyakan apa yang beliau pikirkan sampai tidak bisa tidur pada pukul 02 dinihari.

Melihat mata ibu saya seperti itu, saya seolah-olah diingatkan untuk mohon ampun sebelum beliau pergi. Saya bisikkan permohonan ampun dan kerelaan saya atas kepergiannya. Dan, ketika saya akhiri bisikan tersebut, ibu saya telah menghembuskan nafas terakhirnya dengan mata tertutup sempurna. Maha Pengasih, Engkau ya Allah, yang memberikan kesempatan bagiku untuk memohon ampun kepada ibundaku tercinta menjelang kepergiannya menghadap-Mu. Terima kasihku padamu Ibu, yang telah memberikan kasih sayang terakhir dan abadi dalam detik-detik terakhir hidupmu. Semoga Allah memberikan kemudahan dan kelapangan bagimu di sana.

Sekarang, dapatkah Anda bayangkan, bagaimana perasaan saya pada waktu itu?. Sampai detik ini, saya masih ingat dengan jelas dan rinci peristiwa tersebut. Peristiwa yang mengubah cara pikir saya dalam memandang kehidupan dan kematian. Kehidupan seperti apa yang harus saya jalani, agar saya dapat menghadapi sakaratul maut seperti itu. Saya masih ingat ucapan ayah , setelah beliau tiba di rumah sakit, yang mengatakan betapa cantiknya wajah ibu pada saat itu, dalam bahasa Minang dan isak tangis yang memilukan. Kata orang, wajah ibu mencerminkan kedamaian dan kepasrahannya menyambut maut.Penderitaan batinnya di dunia ini, insya allah, akan memberikan kemudahan dan kelapangan di dunia akhirat.

Seperti yang sudah sering kita dengar, bahwa ada 3 perkara yang kita bawa ke alam akhirat kelak, yaitu: amal jariah, doa anak yang saleh, serta ilmu yang bermanfaat. Alhamdulillah, ibu saya telah memiliki dua hal, amal jariah yang selalu beliau lakukan dan ilmu yang bermanfaat, paling tidak bagi kami, anak perempuannya dalam mengarungi kehidupan. Tetapi doa anak yang saleh? Apakah kami, anak-anaknya , termasuk anak yang saleh, yang langkah dan doa kami dapat mengantar ibunda kami ke tempat yang indah, yang dijanjikan Allah Swt? Tidak ada seorang pun yang dapat memastikan bahwa kami, khususnya saya, adalah anak yang saleh, kecuali Dia, Sang Pencipta kita. Saya hanya dapat berharap dan berusaha untuk menjadi anak yang saleh, dengan cara menjalankan segala perintah-Nya dan meninggalkan yang dilarang-Nya.Sekali lagi, saya hanya berusaha. Allah jua yang menentukan.

Ibu saya, seperti para ibu lainnya, hanya memberi, tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia. Tetapi, sebagai seorang makhluk yang diberi akal dan perasaan, tak tergerakkah hati kita untuk membalas kasih sayang yang ibu kita berikan? Selagi ibu Anda masih ada, sempatkan untuk memberikan yang terbaik yang Anda punyai baginya. Tidak harus dalam bentuk materi, tetapi moril yang lebih utama. Mengapa? Bila Anda telah menjadi seorang ibu, seperti saya, tidak ada yang lebih membahagiakan hati seorang ibu, selain perkataan yang manis dan tindakan yang santun (akhlak yang baik) dari seorang anak terhadap ibunya. Jadi, mengapa harus menunggu ibu Anda pergi, untuk membalas kasih sayangnya kepada Anda? Bukankah Rasulullah pernah bersabda dalam hadis sahih Bukhari sbb:
Datang seorang laki-laki kepada Rasulullah saw. dan bertanya: “Wahai Rasulullah! Siapakah yang paling berhak saya pergauli dengan baik?” Jawab beliau: “Ibumu!” Tanya orang itu: “Sesudah itu siapa?” Jawab beliau: “Ibumu!” Tanya: “Kemudian itu siapa lagi?” Jawab beliau: “Ibumu!” Tanya: “Siapa lagi?” Jawab beliau: “ Kemudian itu bapakmu.”

*) Tulisan ini pernah dimuat di HU Pikiran Rakyat, 31 Desember 2001 dengan judul “Renungan tentang Kematian dan Kasih Ibu”

Comments (1) »

APA ARTI KEMERDEKAAN BAGI ANDA?*)

Pertanyaan tersebut sering kita dengar setiap tahun, menjelang hari ulang tahun kemerdekaan negara kita. Pertanyaan itu biasanya diajukan oleh para reporter media massa, dalam bentuk lisan dan tulisan, kepada berbagai macam lapisan masyarakat, mulai dari anak-anak sampai orang tua, dari masyarakat kelas bawah sampai kelas elit. Jawaban yang kita dengar pun bervariasi, bergantung pada kerangka pemikiran dan kerangka pengalaman orang yang menjawabnya. Jika pertanyaan tersebut kita ajukan kepada seorang siswa sekolah dasar, jawabannya bisa dipastikan, kemerdekaan artinya bebas dari belenggu penjahan bangsa Belanda dan Jepang. Bagi seorang istri atau ibu rumah tangga, jawabannya mungkin, kebebasan untuk mengelola biaya rumah tangga tanpa campur tangan suami. Bagi seorang istri yang juga wanita karier, jawabannya mungkin, kebebasan untuk mengaktualisasikan diri dalam dunia kerja sesuai dengan pendidikan yang pernah ia tempuh. Bagi seorang suami, jawabannya mungkin, kebebasan untuk bertindak dan melangkah tanpa perlu memberitahu atau minta pendapat istri. Bagi orang tua, jawabannya mungkin, kebebasan untuk menentukan apa yang terbaik bagi putra-putrinya dalam segala hal.

Jika pertanyaan itu diajukan kepada saya, terus terang saya akan menjawab seperti anak sekolah dasar, kemerdekaan artinya bebas dari belenggu penjajahan pihak lain. Mengapa? Karena kata kemerdekaan tidak pernah memunyai arti khusus bagi saya. Saya hanya mengenal kata itu dalam pelajaran sejarah di bangku SD. Entah karena penyajian materi pelajarannya kurang menarik, atau karena ketidakmengertian saya akan pelajaran tersebut, atau juga karena tidak mengalami sendiri proses perjuangan bangsa Indonesia untuk meraih kemerdekaan, maka kata kemerdekaan tidak dapat saya maknai dengan lebih baik dari dulu sampai akhir bulan lalu. Anehnya, memasuki bulan Agustus tahun ini, saya tiba-tiba terusik untuk mencari jawaban dari pertanyaan di atas. Saya mencoba mencari jawaban tentang apa arti kemerdekaan bagi saya.

Pengertian Kemerdekaan

Kata kemerdekaan berasal dari kata dasar merdeka. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dapat kita temukan bahwa arti kata merdeka adalah: 1) bebas dari perhambaan, penjajahan, dsb., berdiri sendiri; 2) tidak terkena atau lepas dari tuntutan; 3) tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu. Sedangkan kemerdekaan adalah keadaan (hal) berdiri sendiri (bebas, lepas, tidak terjajah lagi); kebebasan. Berdasarkan pengertian di atas saya mencoba menerapkan kata merdeka pada diri saya sendiri. Sudahkah saya merdeka? Jika dilihat dari pengertian pertama (bebas dari perhambaan, penjajahan, berdiri sendiri), sebagai seorang wanita, saya merasa, kadang-kadang, masih terjajah oleh keinginan-keinginan duniawi seperti pakaian dan aksesori pelengkapnya. Saya masih dibelenggu hawa nafsu saya untuk memiki barang lebih banyak dari yang saya butuhkan. Saya belum belum bebas dari penjajahan hawa nafsu saya sendiri, berarti saya belum merdeka! Dilihat dari pengertian kedua (tidak terkena atau lepas dari tuntutan), saya tidak bisa lepas dari tuntutan kewajiban seumur hidup, baik sebagai anak, istri, ibu, dan anggota masyarakat. Lagi-lagi, saya belum merdeka! Dilihat dari pengertian ketiga pun (tidak terikat, tidak bergantung kepada pihak tertentu), saya bukan orang merdeka. Sebagai seorang anak, saya masih memerlukan pendapat, saran, dan dukungan dari orang tua saya. Sebagai seorang istri, saya sangat membutuhkan perhatian, kasih sayang, dan dukungan suami. Sebagai seorang ibu, saya juga memerlukan kasih sayang dan dukungan anak-anak saya. Sebagai anggota masyarakat, saya juga membutuhkan hubungan pertemanan, persahabatan dengan anggota masyarakat lainnya. Saya masih membutuhkan orang-orang tertentu dalam kehidupan saya. Jika demikian, di mana letaknya kemerdekaan diri saya, kemerdekaan pribadi saya?

Pengertian Diri/Pribadi

Pengertian diri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah: 1) orang seorang (terpisah dari yang lain), badan; 2) tidak dengan yang lain; 3) pelengkap kata kerja yang menyatakan bahwa penderitanya atau tujuannya adalah badan sendiri. Sedangkan pengertian pribadi adalah: 1) manusia sebagai perorangan (diri manusia atau diri sendiri); 2) keadaan manusia sebagai perseorangan, keseluruhan sifat-sifat yang merupakan watak orang. Jika dihubungkan dengan kata kemerdekaan, maka pengertian kemerdekaan diri bisa diartikan sebagai kebebasan diri sendiri —- dengan keseluruhan sifatnya sebagai manusia — dari kebergantungan pada pihak lain. Untuk mengetahui ada atau tidaknya kebergantungan kita kepada orang lain, yang harus kita lakukan lebih dahulu adalah mengetahui kelebihan dan kekurangan diri.Dengan kata lain, kita harus mengenali diri kita dahulu. Bagaimana cara kita mengenali diri? Cara mengenali diri berikut ini saya ketahui dari kursus pengembangan diri yang pernah ada di kota Bandung, yang menyebutkan bahwa pengenalan diri merupakan tahap awal dari proses pengembangan diri. Pengenalan diri dimulai dengan mendata diri secara jujur, sifat-sifat positif negatif yang kita rasakan atau miliki. Kemudian kita harus mengupayakan umpan balik dari seseorang yang dapat kita percaya (orang tua, sanak saudara, kerabat, sahabat, guru, dll) untuk mendapatkan konfirmasi yang jujur pula tentang sifat-sifat kita. Selanjutnya kita harus menerima kenyataan dengan lapang dada hasil konfirmasi tersebut, dan kita jadikan sebagai titik awal untuk memaksimalkan sifat-sifat positif dan meminimalkan sifat negatif kita. Dari uraian tentang cara mengenali diri, kita dapat melihat bahwa untuk mengenali diri kita sendiri pun kita masih memerlukan konfirmasi dari orang lain. Dengan kata lain, kita masih bergan tung kepada pihak lain. Kita belum merdeka! Lagi-lagi kita bertanya, dimana letak kemerdekaan diri kita?

Kemerdekaan Diri Sendiri

Menurut ajaran Islam yang saya pahami dan yakini, manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT memunyai fitrah (titik asal, kesucian, bakat, pembawaan, KBBI) yang positif. Kita juga dibekali akal, perasaan, dan keinginan. Akal, perasaan, dan keinginan kitalah yang menjadi faktor-faktor yang akan tetap memositifkan atau menegatifkan diri kita, di samping beberapa faktor lain seperti: pendidikan, situasi dan kondisi keluarga, lingkungan tempat kita bersosialisasi. Keinginan yang ada dalam diri kita disebut juga nafsu (keinginan, kecenderungan hati yang kuat, KBBI), baik lahiriah maupun batiniah. Memunyai nafsu untuk memperoleh kehidupan lahiriah dan batiniah yang cukup merupakan hal yang wajar bagi kita. Tetapi nafsu untuk memperoleh lebih banyak dan lebih banyak lagi dari yang telah kita peroleh dan miliki, nafsu yang tidak pernah cukup, merupakan hal yang tidak wajar. Pada saat itu yang ada dalam diri kita bukan lagi nafsu, tetapi hawa nafsu (desakan hati atau keinginan yang keras untuk menurutkan hati, melepaskan marah, dsb , KBBI). Hawa nafsu untuk mendapatkan lebih banyak dan lebih banyak lagi dari yang telah kita peroleh akan terus membelenggu kita selama kita tidak berusaha untuk bebas darinya. Selama itu pula kita tidak akan pernah meraih kemerdekaan diri. Hal lain yang saya pahami dan yakini adalah, jalan hidup kita di dunia ini bergantung kepada kehendak Allah. Tetapi kehendak Allah juga bisa berubah setiap saat bergantung usaha kita dalam melaksanakan perintah-Nya, mengenal dan mendekati-Nya serta mencari ridla-Nya.Kita bisa melaksanakan perintahnya, karena kita sudah terbiasa sejak kecil dengan semua itu. Tetapi untuk mengenal dan mendekati Allah kita perlu penjelasan lain. Apalagi kita tahu bahwa kita tidak akan pernah bisa mengenal Allah, sebelum kita bisa mengenali diri kita sendiri. Dalam usaha mengenali diri sendiri, karena keterbatasan referensi, kita kembali kepada cara mengenali diri yang pernah saya ketahui. Dilihat dari teorinya, mengenali diri dengan cara mendata diri, mengupayakan umpan balik, mendapat korfirmasi, dan menerima kenyataan, tidaklah berat, tidak sulit.Tetapi jika kita praktikkan, ternyata berat dan sulit sekali!Karena ada tuntutan untuk membuka dan mengungkapkan diri secara jujur! Mampukah kita mendata secara jujur sifat/hal positif dan negatif yang ada dalam diri kita? Mampukah kita mengupayakan dan menerima umpan balik dari pihak lain, sekalipun ia adalah orang kita cintai? Mampukah kita menerima kenyataan dengan berlapang dada, bahwa diri kita tidak seperti yang kita bayangkan/rasakan? Dengan menganalogikan jargon “Kita bisa kalau kita mau”, seharusnya kita mampu/bisa melaksanakan itu semua kalau kita mau melakukannya, bukan? Semuanya bergantung pada diri kita sendiri.

Bukan hal yang mudah bagi kita untuk mendata satu-persatu secara jujur, hal-hal positif dan negatif yang kita miliki. Sebagai contoh, kita merasa diri kita hemat, lalu kita letakkan kata ‘hemat’ dalam kolom sifat positif. Tetapi pada sisi lain, kita juga merasa bahwa walaupun koleksi pakaian, tas, sepatu dan perhiasan kita sudah cukup, kita masih suka menambah koleksi barang-barang tersebut karena ingin disebut orang yang mengikuti mode. Kita jadi konsumtif. Kalau mau jujur, kita harus menghapus kata ‘hemat’ dalam kolom sifat positif dan memasukkan kata ‘boros’ dalam kolom sifat negatif. Perlu perjuangan batin yang berat untuk melakukannya. Pada tahap berikutnya, kita harus mengupayakan umpan balik dari orang lain. Pada tahap ini kita juga terbentur pada perasaan kita yang tidak ingin dan tidak suka dinilai oleh orang lain serta tidak percaya pada penilaiannya, walaupun dia adalah orang yang kita cintai dan tahu persis bagaimana kehidupan kita. Sekali lagi kita perlu perjuangan berat untuk melaluinya. Apalagi setelah itu kita harus mau menerima kenyataan bahwa sedikit banyak akan terdapat perbedaan antara apa yang kita rasakan dan dia rasakan. Lagi-lagi, dengan perjuangan batin yang berat, kita lalui tahap tersebut. Dalam usaha kita untuk mengenali diri, kita lalui setiap tahap dengan perjuangan batin yang berat. Perjuangan batin untuk melawan ketidakinginan atau ketidaksediaan kita untuk membuka diri, menyatakan apa adanya diri kita secara jujur dan menerima dengan ikhlas penilaian orang lain tentang kita. Perjuangan untuk melawan hawa nafsu kita, perjuangan untuk membebaskan diri dari belenggu hawa nafsu. Perjuangan untuk meraih kemerdekaan diri! Tetapi ketika kita berhasil mengalahkan hawa nafsu kita, kita merasakan kebahagiaan dan kenikmatan yang tiada tara, yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Kebahagiaan karena keberhasilan kita dalam melepaskan belenggu hawa nafsu, kebahagiaan karena berhasil meraih kemerdekaan diri dari penjajahan hawa nafsu, kemerdekaan diri yang sejati! Dari uraian tersebut, akhirnya saya mendapatkan makna yang lebih baik tentang kemerdekaan. Kemerdekaan diri saya tidak lagi sekadar bebas dari belenggu penjajahan pihak lain, tetapi bebas dari belenggu penjajahan pihak lain yang ada dalam diri saya yaitu hawa nafsu dalam diri saya sendiri. Saya harus mempertahankan kemerdekaan diri saya ini seumur hidup, karena saya tahu akan ada penjajahan hawa nafsu yang lain dalam diri saya.

Tulisan ini merupakan bentuk kemerdekaan diri saya dalam arti lain, seperti yang sering kita dengar, kemerdekaan untuk menyatakan pikiran dan pendapat. Seperti teks dalam iklan di media massa, selanjutnya…… terserah Anda! Atau seperti, yang pernah saya dengar dalam salah satu ceramah Bapak Jalaluddin Rakhmat, kata penyair eksistensialis Perancis Charles Baudelaire: A votre chose, a votre guise, terserah pilihan Anda! Andapun memiliki kemerdekaan sendiri, bukan?

*) Tulisan ini pernah dimuat di HU Pikiran Rakyat, 16 Agustus 2002

Comments (1) »

BERDIRI BULU ROMAKU….

Berdiri bulu romaku… itulah yang saya rasakan ketika mengawali perkuliahan pada hari Rabu lalu, 17 Juni 2009. Hari itu hari kedua saya mengajar dan minggu pertama perkuliahan dimulai sejak UTS berakhir.

Sebagai pembuka perkuliahan, saya mulai dengan meminta komentar, pendapat, saran, atau apa yang mereka rasakan setelah mengikuti kuliah Human Relations selama 8 sesi dan UTS…. Beberapa mahasiswa menyatakan jawaban “standar”, dalam arti mereka senang dengan mata kuliah HR karena kuliah HR dapat membuat:
– Mereka lebih pede bicara di depan forum
– Mereka tahu lebih dalam tentang siapa teman mereka dan mengambil pelajaran dari pengalaman temannya
– Mereka lebih dekat/akrab satu sama lain
– Mereka merasakan manfaat prinsip-prinsip HR daalam membna hubungan baik dengan orang lain dan keluarga

Bukan sombong lho! Jawaban seperti itu sudah biasa saya dapatkan dari mahasiswa. Saya ingin mendapatkan sesuatu yang baru. Kebetulan mata saya menyapu seorang mahasiswa yang kelihatan sedang tidak menyimak apa yang sedang saya sampaikan. Namanya David Fernando, kelas 1 TI 02. Langsung saya ajukan pertanyaan kepadanya,” Apa yang Anda rasakan selama 8 sesi kuliah HR, David?” Ia kelihatan kaget dan tidak siap menjawab pertanyaan saya. Tapi dengan segera ia menyampaikan pernyataan yang membuat saya terkejut, terkesima, dan merinding..
“ Awalnya saya tidak suka HR. Buat saya, HR itu ngorek-ngorek orang. Buat apa sih ngorek-ngorek orang? Tapi lama-lama, saya jadi seneng, karena saya jadi banyak tahu tentang temen-temen, dan saya jadi lebih dekat dengan temen-temen di kelas…”
Terus terang, saya terkejut mendengar kalimat awal yang diucapkan David. Ini orang pertama yang menyatakan hal itu dengan ekspresinya yang khas.Tapi, saya jadi terkesima mendengar kalimat selanjutnya..saya jadi merinding…. Berdiri bulu romaku, seperti kata lagunya Hetty Koes Endang tahun 80-an sebagai pengantar tidur bayi kami saat itu.

Bagi saya, itulah kalimat paling jujur yang saya dengar selama perkuliahan semester genap 2008/2009 ini… Ada perasaan haru dalam dada yang membuat saya sempat terbata-bata untuk mengucapkan terima kasih kepada David.. Terima kasih David, untuk pernyataanmu yang membuat saya merinding…

Haru dan bangga rasanya mendengar kalimat itu.. Biasanya perasaan ini hanya saya rasakan pada saat UAS ketika mendengarkan presentasi mahasiswa tentang perubahan yang terjadi setelah mereka mengikuti kuliah HR, seperti yang telah saya ceritakan pada tulisan-tulisan awal saya dalam blog ini. Tapi sekarang, saya telah menikmati perasaan itu lebih awal. Alhamdulillah…! Hilang sudah rasa lelah dan jenuh dalam mengajar. Perasaan yang kadang-kadang mucul di tengah masa perkuliahan. Berganti dengan perasaan bangga karena bisa memberikan ilmu yang bermanfaat bagi mahasiswa. Apresiasi positif seperti yang membuat kami, para dosen HR, selalu termotivasi untuk memberikan yang terbaik kepada mahasiswa kami.

Perasaan bangga itu pula yang terus menemani saya dalam kegiatan selanjutnya. Hari itu adalah adalah hari yang padat bagi saya. Betapa tidak, hari itu saya mengajar dari pagi sampai siang. Kemudian dilanjutkan dengan rapat panitia Pameran Buku Bandung 2009 sampai sore. Dan, yang sedikit membuat saya tegang, sorenya saya harus membedah buku “The Corporate Mystic” di kampus LPKIA. Ini adalah kegiatan kedua yang diadakan LPKIA Book Lover”s Club.

Mengapa saya merasa tegang? Saya yang terbiasa membaca naskah buku dan mengeditnya agar bisa dinikmati pembaca, ternyata mengalami hambatan dalam membaca dan meringkas buku yang sudah jadi. Frame saya sebagai editor sering menghambat proses saya membaca buku tersebut. Walaupun sedikit terganggu, akhirnya bisa juga saya meringkas isi buku dan menulisnya dalam empat halaman kwarto.

Ketika saya harus mempresentasikannya, saya sempat grogi. Mengapa? Karena seluruh petinggi LPKIA hadir dalam acara bedah buku kali ini, mulai dari Ketua Yayasan, para direktur, manajer, sampai ketua program studi. Ada trauma “ takut disidang” oleh peserta, terutama petinggi LPKIA, seperti yang dialami oleh pembahas buku pada kegiatan pertama. Untunglah pada kegiatan kali ini, moderator telah menjelaskan lebih dahulu aturan main dalam bedah buku, yang diharapkan menjadi sarana berbagi/sharing di antara peserta.

Alhamdulillah, dengan keterbatasan saya, acara bedah buku dapat saya selesaikan. Acara benar-benar menjadi arena sharing para peserta. Kesan yang saya dapatkan adalah betapa hebatnya human relations para petinggi LPKIA. Mereka sangat terbiasa untuk memberi apresiasi kepada para dosen, juga dosen LB seperti saya, yang membuat kami  merasa sangat dihargai. Itu pula yang membuat saya selalu ingat dan ingin kembali mengajar di LPKIA ketika saya sempat mengundurkan diri pada tahun 1998. Apresiasi positif yang saya terima dari Pak Paulus Tamzil ketika saya mengajar selama 1996-1998 pula lah yang mengingatkan dan membuat saya kembali mengajar di LPKIA sejak 2002 sampai sekarang.

Renungan untuk kita: Jangan pernah bosan memberikan apresiasi positif kepada orang lain agar ia termotivasi untuk melakukan hal-hal positif pula.

Leave a comment »

“DOSA” POLIGAMI DI MATA KARTINI*)

Pernah dengar kalimat “Habis Gelap Terbitlah Terang”? Ya, memang kalimat itu adalah judul sebuah buku yang ditulis Armijn Pane, yang merupakan kumpulan surat RA Kartini kepada sahabat-sahabatnya. Pernahkah Anda membaca buku tersebut? Saya kira sebagian besar masyarakat Indonesia, terutama kaum perempuan, pernah membaca buku tersebut. Tidak seperti saya, yang baru beberapa hari yang lalu tertarik membaca buku itu karena ingin mengetahui bagaimana proses lahirnya emansipasi wanita di mata seorang Kartini. Belum selesai saya membaca buku itu, saya tertarik dengan salah satu isi suratnya kepada Nona Zeehandelaar, tanggal 6 November 1899, yang mengemukakan pendapatnya tentang “dosa” poligami dalam agama Islam, sebagai berikut:
“Aku tiada, sekali-kali tiada dapat menaruh cinta. Kalau hendak cinta, pada pendapatanku haruslah ada rasa hormat dahulu, dan aku tiada dapat menghormati anak muda Jawa. Manakah boleh aku hormati yang sudah kawin dan sudah jadi bapak, tetapi meskipun begitu, oleh karena telah puas beristrikan ibu anak-anaknya, membawa perempuan lain pula ke dalam rumahnya, perempuan yang dikawininya dengan sah menurut Islam? Dan siapa yang tiada berbuat demikian? Dan mengapa pula tiada akan berbuat demikian? Bukan dosa, bukan kecelaan pula; hukum Islam mengizinkan laki-laki menaruh empat orang perempuan. Meskipun seribu kali orang mengatakan, beristri empat itu bukan dosa menurut Islam, tetapi aku, tetap selama-lamanya aku mengatakan itu dosa. Segala perbuatan yang menyakitkan sesamanya, dosalah pada mataku. Betapakah azab dan sengsara seorang perempuan, bila lakinya pulang ke rumah membawa perempuan lain, dan perempuan itu harus diakuinya perempuan lakinya yang sah, harus diterimanya jadi saingannya?”

Membaca sekilas pernyataan tersebut, saya mendapat kesan betapa emosionalnya Kartini dalam mengungkapkan bahwa poligami adalah perbuatan dosa, walaupun ia tahu bahwa agama Islam yang dianutnya membolehkan seorang laki-laki beristri sampai empat orang. Betapa beraninya ia menentang suatu keadaan yang dibenarkan dalam Al-Quran, petunjuk hidup umat Islam. Apalagi ketika saya baca lebih jauh, Kartini ternyata lahir dari seorang istri kedua! Betapa beraninya Kartini mengatakan hal itu. Bukankah dengan mengemukakan hal itu berarti ia mencela tindakan ayahnya, mencoreng nama baik keluarganya sendiri? Mengapa Kartini bisa berpendapat seperti itu? Setelah saya baca lebih jauh, saya melihat, justru karena merasakan sendiri situasi dan kondisi poligami dalam keluarganyalah yang membuat Kartini menjadi kritis. Dan sikap kritisnya itu tumbuh karena kesempatan yang diberikan ayahnya untuk memperoleh pendidikan yang sama dengan saudara laki-lakinya. Ironis bukan?

Selayang Pandang tentang Kartini

Kartini dibesarkan dalam lingkungan adat istiadat Jawa yang memandang perempuan hanya dari sisi kewajibannya saja tanpa memperhatikan hak-hak mereka. Pada waktu itu, perempuan priyayi yang sudah berusia 12 tahun akan dikurung dan dipingit oleh orang tuanya sekian lama sambil menunggu dinikahkan dengan pria yang tidak mereka kenal. Walaupun Kartini sempat dipingit pada usia 12 tahun, ia beruntung karena ayah yang menyayanginya itu tidak memaksa Kartini untuk menikah dengan pria yang tidak dikenalnya. Selama 4 tahun dipingit Kartini menghabiskan waktunya dengan membaca. Dengan membaca buku, ia semakin tahun betapa berbedanya kedudukan perempuan Jawa dengan perempuan Belanda teman sekolahnya.
Pada saat dipingit, perempuan Jawa dididik untuk menjadi pelayan bagi suami dan anak-anaknya, dengan segala kewajibannya, tanpa diimbangi dengan hak mereka sebagai perempuan. Mereka hanya dididik untuk menjadi Raden Ayu, sebutan untuk seorang istri di kalangan ningrat. Mereka harus siap untuk dinikahkan, setiap saat, dengan laki-laki pilihan orang tuanya, laki-laki yang tidak dikenalnya, melayani laki-laki tersebut dan menjadi ibu dari anak-anaknya. Kelak mereka pun harus mau menerima bila suatu saat suaminya membawa perempuan lain sebagai istrinya untuk tinggal bersama mereka! Poligami menjadi suatu hal yang biasa, lumrah, dan tidak pernah dipermasalahkan.
Kenyataan seperti itulah yang membuat Kartini merasa betapa tidak adilnya perlakuan adat terhadap kaum perempuan. Mereka diperlakukan berbeda dengan laki-laki. Perempuan hanya dipandang sebagai objek kaum laki-laki. Perempuan hanya dibebani setumpuk kewajiban untuk melayani kaum laki-laki, tanpa diimbangi dengan hak mereka sebagai perempuan, yang juga punya perasaan dan keinginan. Keinginan untuk mendapatkan pendidikan, untuk menentukan sendiri laki-laki yang akan menjadi suaminya, dan untuk mendidik anak mereka dengan ilmu yang dimilikinya. Sementara itu, kaum lelaki dijadikan raja, tempat perempuan mengabdikan diri, dan menjadi budak. Selain bebas memperoleh kesempatan pendidikan, laki-laki pun bebas menentukan perempuan mana yang akan dijadikan istrinya, dan bebas pula untuk menikahi perempuan lain walaupun ia sudah beristri.

Kartini dan Emansipasi

Pemahaman Kartini yang dalam tentang arti perempuan dalam kehidupan laki-laki, yang juga berdasarkan Islam, dapat kita lihat dalam suratnya yang lain kepada Nona Zeehandelar, serta Tuan dan Nyonya Anton sebagai berikut:
“Allah menjadikan perempuan akan jadi teman laki-laki, dan tujuan hidupnya adalah bersuami. Benar, tiada tersangkal dan dengan senang hati aku mengakui bahwa bahagia perempuan yang sebenarnya, berabad-abad kemudian pada ini pun demikian juga, ialah: hidup bersama-sama dengan laki-laki dengan damai dan selaras! Tetapi betapakah mungkin hidup bersama-sama dengan damai dan selaras, bila aturan kawin kami demikian, seperti yang kuuraikan itu?”

“Alangkah berbahagianya laki-laki, bila perempuannya bukan saja menjadi pengurus rumah tangganya, ibu anak-anaknya saja, melainkan juga menjadi sahabatnya, yang menaruh minat akan pekerjaannya itu. Hal yang sedemikian itu tentulah berharga benar bagi kaum laki-laki, yaitu bila dia bukan orang yang picik pemandangannya dan angkuh. Kami di sini meminta, yang memohonkan, meminta dengan sangatnya supaya diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan itu saingan orang laki-laki dalam perjuangan hidup ini – oleh sebab sangat yakin akan besar pengaruh yang mungkin datang dari kaum perempuan – hendak menjadikan perempuan itu lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan oleh alam sendiri ke dalam tangannya; menjadi ibu – pendidik manusia yang pertama-tama”.

Saya terkagum-kagum dengan pemikiran Kartini tentang perempuan. Betapa tidak! Mengapa justru dari seorang Kartini, yang lahir dari seorang istri kedua, tumbuh pemikiran yang sangat mendalam tentang hakikat perempuan. Dari seorang anak perempuan yang mempunyai kedekatan emosional dengan ayahnya, tetapi tidak mempunyai kedekatan emosional dengan ibunya! Menurut Kartini, di tangan para perempuan lah terletak nasib generasi penerus. Bagaimana mungkin akan lahir generasi penerus yang lebih baik dari mereka, bila sang ibu, sebagai pendidik pertama anak-anak mereka, tidak dibekali pengetahuan yang layak. Karena itu perempuan harus diberi kesempatan yang sama dengan kaum laki-laki dalam bidang pendidikan. Itulah yang menjadi cita-cita Kartini, persamaan hak antara kaum perempuan dan kaum laki-laki dalam memperoleh pendidikan, atau yang lebih kita kenal dengan istilah emansipasi.
Dari surat-suratnya tersebut, dapat kita lihat ternyata emansipasi versi Kartini hanyalah emansipasi sederhana, dalam arti sempit, terbatas dalam wilayah domestik. Tetapi emansipasi perempuan sekarang sudah berkembang lebih jauh ke dalam wilayah publik. Menurut saya pribadi, hal itu sah-sah saja, selama perempuan tidak melupakan wilayah domestiknya. Seperti yang diungkapkan oleh Dr. Ratna Megawangi, dalam acara Interupsi dengan topik “Kartini Kartono” tanggal 22 April 2002 pada salah satu stasiun televisi swasta, adanya PRT (pembantu rumah tangga) memungkinkan hal itu terjadi. Sebagian tanggung jawab wilayah domestik kaum perempuan terbantu dengan adanya PRT. Atau, bisa juga tanggung jawab wilayah domestik itu diambil alih sebagian oleh seorang suami, seperti yang dilakukan oleh Ir. Dhana Darsono, suami Emmy Hafidz. Di sanalah diperlukan kebesaran hati kaum laki-laki untuk dapat menerima keadaan, berbagi tugas dengan sang istri dalam wilayah domestik perempuan. Mungkin tipe suami seperti itulah yang dimaksud Kartini dengan suami yang tidak picik pandangannya. Atau “Kartono”, figur suami ideal yang didambakan Kartini

“Dosa” Poligami

Walaupun poligami merupakan hal yang lumrah dalam adat istiadat Jawa pada waktu itu, dan juga dibenarkan oleh ajaran Islam, Kartini menganggap perbuatan itu sangat menyakitkan hati para istri. Tindakan menyakiti istri sama dengan menyakiti sesama, dan menyakiti sesama adalah perbuatan dosa. Karena itu, menurut Kartini, poligami adalah dosa!
Bila kita renungkan lebih dalam, pernyataan Kartini tentang dosa poligami tersebut justru menunjukkan betapa dalamnya pemahaman Kartini tentang dosa menyakiti sesama dan arti perempuan dalam kehidupan laki-laki. Mengapa? Selama ini, pengertian dosa, terutama dosa menyakiti sesama, selalu kita pahami dan maknai dengan perbuatan menyakiti orang lain, selain orang tua kita. Sering kita dengar ungkapan doraka ka kolot, doraka ka salaki, doraka ka si Fulan, dsb. Jarang sekali kita dengar ungkapan doraka ka pamajikan! Seolah-olah hanya kaum istri saja yang bisa berdosa kepada suaminya, karena kekurangannya dalam berkhidmat kepada suami. Ketika ada masalah terjadi dalam rumah tangga mereka, misalnya perselingkuhan suami, yang dijadikan alasan pertama adalah kekurangan sang istri dalam menghadapi suami, dalam mengurus rumah tangga, dalam mengurus anaknya, dsb. Kesalahan ditimpakan kepada istri karena tidak bisa menjalankan tugas membina rumah tangga. Padahal membina rumah tangga bukan hanya tugas seorang istri, tetapi tugas berdua, suami dan istri. Mengapa selalu istri yang disalahkan dahulu? Apakah hal tersebut tidak menunjukkan ketidakmampuan sang suami dalam mendidik istrinya membina rumah tangga mereka?
Poligami adalah hal yang dibenarkan dalam Islam, bukan suatu tindakan tercela. Ada berbagai macam alasan yang dapat dikemukan oleh suami untuk melakukan poligami. Salah satu alasan yang sering kita dengar adalah karena kekurangan istri dalam satu atau banyak hal. Saya pribadi masih bisa menerima bila seorang suami melakukan poligami karena sang istri tidak dapat memenuhi kebutuhan batin suaminya selamanya, atau karena tidak bisa mendapatkan keturunan dari sang istri. Sebagaimana kita ketahui, salah satu tujuan pernikahan adalah untuk memenuhi kebutuhan seks dan memperoleh keturunan. Tetapi bila alasannya karena kekurangan istri dalam hal-hal tertentu, saya balik bertanya, apakah suami itu sendiri sudah berlaku sempurna kepada istrinya? Bukankah tidak ada manusia yang sempurna di atas dunia ini? Lalu, mengapa para suami begitu egoisnya untuk mengajukan alasan tersebut.
Lain lagi di kalangan ulama. Banyak ulama yang beristri lebih dari satu. Saking banyaknya ulama yang beristri lebih dari satu, ada lelucon yang mengatakan, “kalau belum beristri dua belum bisa disebut ulama”, atau “ulama beristri dua karena mengikuti sunnah Rasul”! Khusus di kalangan istri ulama, lelucon yang beredar adalah “untuk jadi istri di pintu surga, harus rela dimadu”! Saya menganggap ucapan itu lelucon, karena ucapan-ucapan seperti itu sangat tidak masuk akal. Bagaimana mungkin kadar seorang ulama diukur dengan jumlah istri! Bagaimana mungkin kadar perilaku yang mengikuti sunah Rasul dibuktikan dengan mempunyai beberapa orang istri. Bukankah Rasulullah menikahi wanita-wanita lain itu hanya karena menghadapi situasi darurat, dalam rangka memperjuangkan hak perempuan? Bagaimana mungkin pula seorang perempuan bisa masuk surga hanya karena mengizinkan suaminya beristri lagi, tanpa diikuti amal salih lainnya?
Walaupun demikian, dalam kenyataannya, lelucon tersebut dapat diterima sebagai hal yang lumrah terjadi dalam kehidupan masyarakat kita. Tetapi bila para suami mau merenungkan lebih jauh tentang arti perempuan dalam kehidupan mereka, saya yakin mereka akan berpikir ulang untuk melakukannya. Bukan karena ungkapan perasaan perempuan seperti Kartini. Tetapi karena seorang laki-laki tahu betul bahwa ia dilahirkan dari rahim seorang perempuan! Karena kasih sayang seorang perempuanlah, seorang laki-laki tumbuh dan berkembang menjadi dirinya. Karena kasih sayang perempuan pula, seorang laki-laki bisa beraktualisasi maksimal, baik sebagai seorang anak, suami, ayah, dan bagian dari masyarakat. Anak dari ibunya, suami dari istrinya, ayah dari anaknya! Akankan ia tega menyakiti hati perempuan, atau sesama kaum perempuan seperti ibunya, yang telah ikut membantunya mengembangkan diri secara maksimal? Atau, tegakah hatinya bila kelak, anak perempuannya pun diperlakukan sama oleh suaminya?
Melalui tulisan ini, saya mengajak kaum perempuan untuk melanjutkan cita-cita Kartini, memberdayakan diri secara maksimal dalam wilayah domestik kita. Di tangan kitalah terletak nasib generasi penerus. Dengan dukungan dan kerjasama suami kita, insya Allah akan kita bentuk generasi penerus yang lebih baik dari kita generasi kita. Bagi Anda, perempuan yang juga merambah wilayah publik, jangan lupakan wilayah domestik Anda. Jangan sampai hal ini menjadi alasan bagi suami Anda untuk berpoligami karena tetap menginginkan Anda yang mengurus wilayah domestiknya. Bravo Kartini! Bravo perempuan Indonesia!

*) Tulisan ini pernah dimuat di HU Pikiran Rakyat, April 2002

Leave a comment »

JALAN HIDUPKU

Ketika saya mulai bergabung di FB, menantu saya memasang foto saya bersama seorang bayi. Kemudian, foto itu saya ganti. Kali ini foto saya bersama suami dan bayi tersebut. Beberapa teman menyangka bayi itu adalah anak kami. Padahal, bayi itu cucu kami, Muhammad Alif Arzady. Pertanyaan berikutnya yang muncul: ” Emang Rema udah punya cucu?”
Pertanyaan yang wajar. Menurut ukuran standar, saya memang belum waktunya punya cucu. Umur saya baru mau 47 kok!  Tapi, jalan hidup saya memang berbeda dengan teman-teman yang lain. Takdir menentukan saya harus memunyai cucu di usia saya ke 45 tahun.

Beberapa teman dekat sudah mengetahui cerita berikut, tapi sebagian besar belum tahu. Karena itu sengaja saya post– kan cerita saya ini. Cerita yang pernah beredar juga di beberapa milis yang saya ikuti.

Sabtu, 6 Januari 2007
Malam itu, seperti biasa, aku sedang rebahan di kamar. Aan, suamiku, sedang asyik nonton bola di ruang tv. Tiba-tiba, Reza, anak sulungku, masuk kamar, dan duduk di kursi yang ada. Selintas terpikir, ada apa dengan anakku… sepertinya ada yang ingin dia ceritakan.. Ternyata memang iya.. ada yang ingin dia sampaikan kepadaku…

Reza memulai pembicaraan dengan menanyakan pendapatku tentang nikah muda. Sebulan ke belakang ia memang agak sering menanyakan pendapatku tentang nikah muda. Selama itu pula, aku memang selalu menghindar utk menjawabnya. Aku takut ia ingin mengajukan permohonan untuk menikah muda. Dia memang punya pacar, anak seorang ajengan di Serang. Aku sering berkata kepada orang, aku takut anakku dinikahkan oleh ayah pacarnya..

Waktu itu aku malah balik bertanya, ”Kenapa sih nanya nikah muda terus? Emang Kaka udah mau nikah? Janganlah Kak… kamu masih terlalu muda, kuliah aja baru mulai… !”
Gimana kalau udah?” jawab anakku balik bertanya dengan ekspesi ”tanpa dosa”
”Kapan, di mana, ama siapa?” tanyaku tak percaya.. Aku masih menganggap jawabannya hanya untuk menpermainkanku.
”20 Juli 2005, di Serang, dinikahin ama kakeknya Dhe (nama panggilan pacarnya)!” jawab anakku dengan tegas..
”Astaghfirullah Esa….., ” hanya itu yang mampu kuucapkan mendengar jawaban anakku.. Aku tak sanggup menjerit… Aku takut suamiku akan bertanya, dan aku yakin akan terjadi ”perang dunia” bila ia mendengar berita ini.. Sementara, minggu depan, anakku harus ujian.. aku tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi nanti… Aku berjuang menahan emosiku dengan menyebut nama Allah, dengan dada sesak… sakit…! Aku mencoba menenangkan diri, dan mengonfirmasi berita ini..
”Kamu nikah waktu ngilang 2 hari di Serang?” tanyaku. Dua tahun yang lalu, dia pernah pamit untuk mengantar pacarnya ke Serang. Waktu itu aku izinkan, dengan catatan ia harus segera kembali malam harinya. Tapi apa yang terjadi? Dua hari aku kehilangan kontak, ia menghilang, tidak bisa dihubungi. HP-nya dan HP Dhe, tidak bisa dihubungi. Ketika ia pulang, 2 hari kemudian, ia punya alasan yang masuk akal. Katanya ia diajak Abi (panggilan ayahnya Dhe) ke kebunnya di gunung. Karena hujan terus menerus, mereka tidak bisa kembali ke kota. Di sana tidak ada sinyal HP. Masuk akal kan? Aku dan suamiku marah besar kepadanya, dan sejak hari itu aku mengultimatum anakku: ”Mama hanya tahu kalian berteman, tidak untuk serius. Nggak usah ngedeket-deketin Dhe ama Mama, nggak usah bawa-bawa Dhe ke rumah!” Aku mengatakan semua itu karena aku lihat anakku pacarannya serius, dan ia selalu berusaha mendekatkan Dhe kepadaku dan adiknya!

”Ya,” jawab anakku dengan tenang. Masya allah… betapa tenangya ia berbicara!
Ternyata, pada saat itulah anakku menikahkan dirinya sendiri, tanpa sepengetahuan kami. Ia menikah resmi, dengan mas kawin seperangkat alat salat dan uang tunai Rp.500.000,00. disaksikan oleh keluarga besar istrinya. Ia memang pernah dipanggil dan diultimatum oleh ayahanda Dhe: tidak boleh pacaran. Kalau mau terus, nikahi Dhe, atau tinggalkan Dhe! Rupanya, karena cintanya kepada Dhe, ia nekad meneruskan hubungan, dan menikahi Dhe. Ia tidak berani mengatakannya kepada kami, karena tahu sikap kami terhadap hubungan mereka.
”Kenapa baru bilang sekarang? Hamil?” apalagi yang dapat dikatakan seorang ibu ketika mendengar kenyataan ini.
”Ya,” lagi-lagi anakku mengiyakan.
”Mau ngidupin anak istri pake apa Kak? Gimana kuliah kamu? Masih mau kuliah nggak?” tanyaku beruntun… Anakku baru memulai semester pertamanya di FK Unisba, setelah tahun lalu, Manajemen Unpad dia tinggalkan karena tidak sesuai dengan keinginannya…

”Esa masih pengen jadi dokter, Mah! Kalau Mamah izinkan, Esa masih mau terus kuliah, jawab anakku..
Di tengah berkecamuknya perasaanku, aku hanya bisa berkata pada anakku: ”Oke… Kita keep dulu masalah ini… Kamu ujian aja dulu… Mama baru akan bicarakan masalah ini ama Papa minggu depan, setelah kamu ujian…

Ya Allah… apa yang terjadi di keluargaku ini? Aku, Rema, Ibu RT di keluarga besarku, keluarga yang biasa dijadikan contoh di keluarga besarku, harus mengalami nasib seperti ini? Anakku, Reza, yang manis dan pandai menyenangkan hati orang itu, menikah diam-diam? Melanggar etika kepada orang tua! Apa yang harus kukatakan kepada suamiku? Ayahku? Mertuaku? Saudara-saudaraku? Keluarga besarku? Inikah hasil pendidikan SMP dan SMA Islam yang ia tempuh? Seribu pertanyaan bermunculan di benakku.

Tapi aku segera sadar, ini adalah kehendak Allah! Kita hanya bisa berencana, tapi Allah lah yang menentukan. Aku tidak pernah bermimpi akan menjadi nenek di usiaku yang baru 45 tahun. Tapi inilah jalan Allah yang harus kulalui. Aku harus menerimanya. Bukankah Allah tidak pernah menguji umatnya di luar kemampuan ybs? Di tengah kegundahanku, aku masih sempat tersenyum, ini praktik langsung dari naskah buku Al-Ikhlash yang sedang kuedit. Aku harus ikhlas menerima semua ini… Dan yang paling kusyukuri, anakku tidak berbuat maksiat.. Ia menikahi Dhe, justru karena menghindari maksiat..

Selama satu minggu, aku rahasiakan masalah ini dari suamiku. Aku hanya bicara pada ”guruku”, satu-satunya orang yang dapat kupercaya dan dapat menasihatiku dengan bijak dalam situasi seperti ini. Dari nasihat beliau, aku semakin yakin, inilah jalan hidup yang telah ditentukan Allah untukku dan keluarga besarku. Selama satu minggu itu pula aku selesaikan tugasku di kampus, menguji mhs (UTS) dan di kantor (menyiapkan buku Al-Ikhlash untuk acara Pameran Buku Bandung), dengan catatan aku perlu waktu pada minggu berikutnya untuk menyelesaikan masalah keluargaku. Selama itu pula aku tidak membicarakan masalah Dhe kepada Reza. Aku berusaha untuk bersikap biasa, dan memberi semangat kepadanya untuk menghadapi ujian tanggal 13 Januari.

Sabtu, 13 Januari 2007

Hari ini anakku ujian lisan di kampusnya. Sejak tadi malam, kepalaku sakit.. Mungkin karena stres, harus membicarakan masalah Reza kepada suamiku..
Alhamdulillah, Reza lulus dengan nilai yang baik kali ini, padahal sesi sebelumnya ia gagal! Rupanya, karena sudah merasa lepas beban, ia bisa belajar dengan baik. Aku jadi ingat, setahun ke belakang, aku merasa sikap Esa jadi beda. Ia lebih sensitif, dan cenderung menutup diri. Kadang aku lihat sikapnya seperti sedang menanggung beban berat. Kalau kutanya, ia selalu menjawab, ”nggak ada apa-apa”.

Malamnya, aku coba bicara kepada Aan, tentang masalah Reza. Dapat Anda bayangkan, bagaimana kaget, marah, dan sakit hatinya seorang ayah mendengar berita seperti ini.. Anaknya menikah diam-diam! Dianggap apa kami ini? Aku biarkan suamiku marah kepada anak kami. Ini PENTING! Anakku harus menerima risiko itu. Suamiku pun harus keluar emosinya. Aku takut, bila ia memendam amarahnya, malah ia yang akan jatuh sakit. Alhamdulillah, Allah Maha Besar, setelah emosinya reda, suamiku malah berkata: ” Udahlah Sa… Nasi udah jadi bubur. Mari kita bikin bubur yang enak.” Betapa indah ucapan suamiku… betapa besar jiwanya… betapa saleh sikapnya.. Ya Allah… Terima kasih… Kau berikan kesabaran dan kekuatan pada suamiku tercinta.

Selasa, 16 Januari 2007
Jam 06.00, kami berempat, aku, Aan, Reza, dan guruku, berangkat ke Serang, untuk mengklarifikasi dan menindaklanjuti masalah anak kami. Sengaja aku bawa guruku, yang juga orang Banten, yang aku anggap mampu untuk menengahi kami, bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Alhamdulillah, setibanya kami di sana pada pk.10.00, pertemuan berlangsung dengan damai. Kami mendapat penjelasan dan jawaban yang logis dan etis dari ayahanda Dhe: Betapa kuat akidah yang dipegang oleh kel. mereka, sehingga mereka tidak mengizinkan anaknya berpacaran dan berbuat maksiat; betapa meyakinkannya jawaban Esa ketika ditanya, apakah kami orang tuanya sudah tahu dan memberi izin; dan betapa Abi berkali-kali ingin mampir ke rumah kami, tapi urung, karena takut terjadi konflik, dst.
Alhamdulillah, masalah dengan besan sudah teratasi. Tinggal bagaimana membicarakan hal ini kepada ayah dan saudaraku, mertuaku, dan pamanku yang menjadi datuk di kaum kami, dan keluarga besar kami.

Rabu, 17 Januari 2007
Hari ini, sengaja aku undang kakakku Arfan, untuk datang ke Ciateul (rumah Papah), untuk membicarakan masalah Esa. Seperti telah keduga, Papah dan Arfan (satu-satunya paman Esa yang masih hidup, yang sangat sayang pada Esa) sangat kaget mendengar cerita kami. Arfan pula, orang pertama, yang mendukung tindakan Esa –walaupun menyayangkan kenapa Esa tidak bicara kepadanya— dengan mengatakan bangga memunyai keponakan yang masih memegang teguh akidah. Haree geenee... masih ada anak SMA yang takut berbuat maksiat? Dukungan selanjutnya datang dari ayahku… alhamdulillah.. Mereka malah menyarankan untuk segera mengumumkan pernikahan Esa, untuk menjaga fitnah. Selanjutnya tinggal memberitahu kakak dan adikku yang lain, mertuaku di Tasik, pamanku, dan yang lainnya. Berbagai macam komentar yang kudengar dari mereka. Tapi, secara umum, mereka menerima keadaan ini, dan siap membantu untuk pelaksanaan acara syukuran anakku. Yang juga membuatku berbesar hati adalah pernyataan dan sikap pamanku, datuk di kaumku. Ia mengatakan bahwa kami harus bangga memunyai anak yang saleh seperti Esa, yang menjaga kesucian dirinya di zaman seperti ini. Alhamdulillah…

Sabtu, 17 Februari 2007.
Hari itu kami menyelenggarakan syukuran pernikahan anak kami, Reza dan Diah (Dhe). Karena keterbatasan tempat, kami memang tidak mengundang semua teman. Karena itu, kami mohon maaf kepada teman-teman. Mohon doanya agar anak kami menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah… Amin.

Itulah cerita tentang kenapa saya sudah punya cucu. Ternyata seneng banget punya cucu tuh. Sayang cucu lain banget dengan sayang anak. Sama anak kita bisa marah, tapi sama cucu,  kita nggak akan tega. Sekarang umurnya 22 bulan, udah bisa jalan, bisa ngomong, dan bisa diajak jalan jalan bertiga: Alif, Nin Rema dan Aki Aan.

Satu hal yang perlu kita pikirkan: Bila kita melihat anak kita sudah memunyai pacar yang kelihatan sudah serius, dan kita ingin menghindari maksiat dan tuntutan Allah di akhirat kelak, tidak ada salahnya mereka kita nikahkan. Tentu saja dengan berbagai kondisi yang perlu kita bicarakan bersama, misalnya tinggal gantian di rumah orang tua masing-masing, uang kuliah ditanggung masing-masing orang tua, dan tunda kehamilan sampai istri selesai kuliah.

Leave a comment »

O, PRT… Berartinya Dirimu!

Pagi tadi, saya bisa bangun agak siang. Beberapa hari ke belakang, setelah salat subuh saya tidak bisa tidur lagi karena harus mengajari pembantu rumah tangga (PRT) saya yang baru tentang tugas-tugas yang harus dia lakukan setiap hari. Cape juga ternyata..! Cape karena saya sudah lama sekali tidak mengajari PRT! Seingat saya, sudah 21 tahun saya tidak mengajari PRT, sejak saya belajar hidup mandiri, membina rumah tangga sendiri.

Saya menikah pada tahun 1986. Sebagai orang Minang, alm ibu saya masih memegang adat istiadat lama, menghormati menantu pria di rumahnya. Sekira 2 tahun kami tinggal di rumah orang tua saya. Setelah saya melahirkan pada 1987, kemudian pindah ke rumah kami pada 1988, saya “dibekali” seorang PRT oleh ibu. Pada saat itulah saya belajar mengurus rumah sendiri , dibantu seorang PRT yang merangkap pengasuh anak, Bi Edah (janda), dan seorang penjaga rumah (pria). Itulah pengalaman pertama saya mengajari PRT.

Waktu itu, setelah pulang kantor, saya selalu menyempatkan diri untuk memasak makanan utama hari itu untuk suami. Tetapi, sejak saya melahirkan anak kedua pada 1990, dan saya “diurus” oleh Mbok Temu, pengasuh saya dulu, saya tidak lagi memasak sendiri. Rupanya karena keenakan diurus Mbok selama 40 hari, saya jadi malas memasak. Sebelum Mbok Temu pulang, saya menambah PRT baru. Mbok Temu dan Bi Edah lah yang mengajari PRT baru kami. Sejak itu, saya dibantu 2 orang PRT, satu bertugas mengurus rumah tangga dan satunya mengasuh anak.

Karena tidak ada kecocokan dengan Bi Edah, PRT baru minta berhenti bekerja. Masalahnya karena berbeda suku, budaya, dan usia, komunikasi antarmereka tidak berjalan harmonis. Ternyata paradigma “sesama PRT dilarang berbeda suku” berlaku juga di rumah saya. Untunglah Bi Edah memunyai adik sepupu yang mau ikut bekerja di rumah kami, Bi Eti, seorang janda. Saya nggak perlu repot-repot lagi mengajari Bi Eti, karena ada Bi Edah. Saya percayakan betul urusan rumah kepada mereka berdua. Mereka pun berbagi tugas dalam mengasuh kedua anak kami. Bi Edah mengasuh Reza, sedangkan Bi Eti mengasuh Reni.

Setelah lebih 10 tahun bekerja, Bi Edah mengundurkan diri karena akan menikah. Lagi-lagi saya beruntung, Bi Eti memunyai adik kandung yang mau bergabung. Namanya Bi Yati, yang juga berstatus janda. Lagi-lagi, saya nggak perlu repot mengajari Bi Yati karena sudah ada Bi Eti. Alhamdulillah, untuk urusan PRT ini saya benar-benar mendapat kemudahan. PRT yang bekerja di rumah kami bisa betah bekerja bertahun-tahun. Walaupun bersaudara, mereka tidak pernah pulang kampung bersama, kecuali lebaran. Ketika lebaran pun, mereka pulang pada H-1 diantar supir ke kampungnya di Ciparay. Mereka kembali bekerja pada H+3 atau H+4, setelah saya kembali dari Tasik, berlebaran ke mertua. Karena itu, selama libur lebaran, praktis saya hanya mengerjakan pekerjaan rumah tangga 1-2 hari saja.

Pada akhir 2006, giliran Bi Eti yang mengundurkan diri karena akan menikah. Alhamdulillah, saya mendapat PRT baru dengan mudah, tapi punya suami! Namanya Bi Ida. Lagi-lagi saya tidak perlu mengajari PRT baru karena ada Bi Yati. Pada pertengahan tahun 2007, Bi Ida hamil. Mau tidak mau, ia harus berhenti bekerja. Alhamdulillah, sekali lagi saya diberi kemudahan oleh Allah swt, Bi Eti minta bekerja lagi! Sayangnya, ia hanya bertahan 5 bulan saja. Karena satu dan lain hal, kembali ia mengundurkan diri. Dengan situasi rumah yang telah berbeda, penghuninya tinggal saya, suami, dan si bungsu, rasanya satu orang PRT pun sudah cukup. Akhirnya tinggal Bi Yati sendiri yang mengurus rumah tangga keluarga saya.

Pada akhir 2007, Bi Yati pun dilamar orang. Ia, satu-satunya PRT saya yang lama, akhirnya mengundurkan diri. Untunglah calon suaminya menyediakan pengganti dan memberi waktu kepada Bi Yati untuk mengajari ybs. Saya pun bebas dari tugas mengajarim PRT baru.

Dengan PRT baru inilah saya mulai punya masalah. Rupanya bekerja baginya hanya sarana untuk mencari jodoh. Setelah beberapa bulan bekerja, ia punya pacar. Malam hari ia sering nongkrong di halaman depan rumah, berkencan dengan pacarnya. Ujungnya, mereka menikah pada malam lebaran 2008. Sesudah ia menikah, ia masih sempat bekerja sebentar sambil memberi kesempatan kepada saya untuk mencari dan mengajari PRT yang baru. Alhamdulillah, dalam waktu singkat, saya berhasil mendapatkan penggantinya. Lagi-lagi saya bebas dari tugas mengajari PRT!

Masalah timbul ketika PRT baru ini, Tia, minta izin pulang kampung untuk menyelenggarakan resepsi pernikahannya. Ia memang baru menikah dan belum pesta. Walau kesal, saya izinkan juga ia pulang kampung dulu. Ternyata, ia jatuh sakit di kampung karena kecapean. Akhirnya, selama 2 minggu saya jadi Oshin. Kebayang kan, gimana hebohnya saya yang udah berpuluh tahun nggak ngurusi rumah? Sampai sakit-sakit badan saya karena harus bangun pagi setiap hari, membereskan rumah, mencuci, dan lain-lain!

Ketika Tia kembali, rasanya saya jadi orang paling bahagia sedunia karena bebas dari pekerjaan rumah tangga! Sayangnya, kebebasan ini hanya bertahan 2 bulan. Akhir bulan lalu, kembali Tia minta izin pulang sebentar karena adiknya perlu uang. Dengan terpaksa saya izinkan dia pulang hari Minggu pagi (29/3) dengan janji ia akan kembali Senin malam (30/3). Entah kenapa, saya punya feeling lain dengan pulangnya Tia hari itu. Ketika saya periksa kamarnya, tidak ada sepotongpun barang pribadinya. Saya curiga, jangan-jangan dia nggak balik lagi… Ternyata benar! Hari Senin malam ia meng-sms saya tidak bisa kembali ke Bandung dalam waktu dekat, dan ia minta saya untuk mencari penggantinya. OMG! Jadi deh: bangun pagi, ngerebus air, nyapu rumah, nyuci, dan nyetrika lagi!

Syukur alhamdulillah, saya masih diberi kemudahan oleh Allah swt. Tanggal 31 Maret kemarin saya dapat PRT baru, mantan pengasuh cucu saya. Sekarang ia sudah bekerja di rumah saya. Inilah pengalaman kedua saya mengajari PRT, setelah 21 tahun berlalu. Aneh rasanya…mengajari  lagi PRT tentang tugas-tugas rumah tangga yang selama ini sudah saya limpahkan secara kepada para PRT sebelumnya secara “turun-temurun”.

Kejadian ini menyadarkan saya untuk tidak melupakan tugas  sebagai ibu rumah tangga, setelah sekian lama saya terlena karena diberi kemudahan dalam urusan rumah tangga. Saya juga bisa merasakan arti dan fungdi PRT dalam kehidupan saya. PRT lah yang membuat urusan rumah “aman terkendali” sehingga saya bisa bekerja, mengajar, dan bepergian ke tempat yang yang saya suka dengan perasaan tenang. Saya hanya berdoa semoga PRT saya yang baru bisa betah bekerja seperti PRT saya yang lama (Bi Edah, Bi Eti, dan Bi Yati). Terima kasih ya Bi… sudah membantu saya sekian lama, membuat urusan rumah saya aman terkendali. Semoga Allah swt membalas jasa mereka dengan pahala yang setimpal.

Tips:

  • Cari PRT sebaiknya yang sudah pernah menikah/ berumah tangga. Kita tidak terlalu sulit mengajarinya.
  • Sesama PRT sebaiknya tidak berbeda suku agar  tidak terjadi konflik di antara mereka.
  • Sebagai ibu rumah tangga kita tidak boleh terlalu bergantung kepada PRT sehingga kita tidak kelimpungan ketika mereka berhenti
  • Ajari anak-anak kita kita , terutama anak perempuan,  untuk mengenal dan mau melakukan pekerjaan rumah tangga sehingga kita tidak cape sendiri ketika ditinggal PRT. Dan, yang paling penting, kita telah  membekali mereka dengan ilmu kerumahtanggaan. Kita tidak akan menerima keluhan dari suami mereka kelak

Leave a comment »