Archive for April, 2009

“DOSA” POLIGAMI DI MATA KARTINI*)

Pernah dengar kalimat “Habis Gelap Terbitlah Terang”? Ya, memang kalimat itu adalah judul sebuah buku yang ditulis Armijn Pane, yang merupakan kumpulan surat RA Kartini kepada sahabat-sahabatnya. Pernahkah Anda membaca buku tersebut? Saya kira sebagian besar masyarakat Indonesia, terutama kaum perempuan, pernah membaca buku tersebut. Tidak seperti saya, yang baru beberapa hari yang lalu tertarik membaca buku itu karena ingin mengetahui bagaimana proses lahirnya emansipasi wanita di mata seorang Kartini. Belum selesai saya membaca buku itu, saya tertarik dengan salah satu isi suratnya kepada Nona Zeehandelaar, tanggal 6 November 1899, yang mengemukakan pendapatnya tentang “dosa” poligami dalam agama Islam, sebagai berikut:
“Aku tiada, sekali-kali tiada dapat menaruh cinta. Kalau hendak cinta, pada pendapatanku haruslah ada rasa hormat dahulu, dan aku tiada dapat menghormati anak muda Jawa. Manakah boleh aku hormati yang sudah kawin dan sudah jadi bapak, tetapi meskipun begitu, oleh karena telah puas beristrikan ibu anak-anaknya, membawa perempuan lain pula ke dalam rumahnya, perempuan yang dikawininya dengan sah menurut Islam? Dan siapa yang tiada berbuat demikian? Dan mengapa pula tiada akan berbuat demikian? Bukan dosa, bukan kecelaan pula; hukum Islam mengizinkan laki-laki menaruh empat orang perempuan. Meskipun seribu kali orang mengatakan, beristri empat itu bukan dosa menurut Islam, tetapi aku, tetap selama-lamanya aku mengatakan itu dosa. Segala perbuatan yang menyakitkan sesamanya, dosalah pada mataku. Betapakah azab dan sengsara seorang perempuan, bila lakinya pulang ke rumah membawa perempuan lain, dan perempuan itu harus diakuinya perempuan lakinya yang sah, harus diterimanya jadi saingannya?”

Membaca sekilas pernyataan tersebut, saya mendapat kesan betapa emosionalnya Kartini dalam mengungkapkan bahwa poligami adalah perbuatan dosa, walaupun ia tahu bahwa agama Islam yang dianutnya membolehkan seorang laki-laki beristri sampai empat orang. Betapa beraninya ia menentang suatu keadaan yang dibenarkan dalam Al-Quran, petunjuk hidup umat Islam. Apalagi ketika saya baca lebih jauh, Kartini ternyata lahir dari seorang istri kedua! Betapa beraninya Kartini mengatakan hal itu. Bukankah dengan mengemukakan hal itu berarti ia mencela tindakan ayahnya, mencoreng nama baik keluarganya sendiri? Mengapa Kartini bisa berpendapat seperti itu? Setelah saya baca lebih jauh, saya melihat, justru karena merasakan sendiri situasi dan kondisi poligami dalam keluarganyalah yang membuat Kartini menjadi kritis. Dan sikap kritisnya itu tumbuh karena kesempatan yang diberikan ayahnya untuk memperoleh pendidikan yang sama dengan saudara laki-lakinya. Ironis bukan?

Selayang Pandang tentang Kartini

Kartini dibesarkan dalam lingkungan adat istiadat Jawa yang memandang perempuan hanya dari sisi kewajibannya saja tanpa memperhatikan hak-hak mereka. Pada waktu itu, perempuan priyayi yang sudah berusia 12 tahun akan dikurung dan dipingit oleh orang tuanya sekian lama sambil menunggu dinikahkan dengan pria yang tidak mereka kenal. Walaupun Kartini sempat dipingit pada usia 12 tahun, ia beruntung karena ayah yang menyayanginya itu tidak memaksa Kartini untuk menikah dengan pria yang tidak dikenalnya. Selama 4 tahun dipingit Kartini menghabiskan waktunya dengan membaca. Dengan membaca buku, ia semakin tahun betapa berbedanya kedudukan perempuan Jawa dengan perempuan Belanda teman sekolahnya.
Pada saat dipingit, perempuan Jawa dididik untuk menjadi pelayan bagi suami dan anak-anaknya, dengan segala kewajibannya, tanpa diimbangi dengan hak mereka sebagai perempuan. Mereka hanya dididik untuk menjadi Raden Ayu, sebutan untuk seorang istri di kalangan ningrat. Mereka harus siap untuk dinikahkan, setiap saat, dengan laki-laki pilihan orang tuanya, laki-laki yang tidak dikenalnya, melayani laki-laki tersebut dan menjadi ibu dari anak-anaknya. Kelak mereka pun harus mau menerima bila suatu saat suaminya membawa perempuan lain sebagai istrinya untuk tinggal bersama mereka! Poligami menjadi suatu hal yang biasa, lumrah, dan tidak pernah dipermasalahkan.
Kenyataan seperti itulah yang membuat Kartini merasa betapa tidak adilnya perlakuan adat terhadap kaum perempuan. Mereka diperlakukan berbeda dengan laki-laki. Perempuan hanya dipandang sebagai objek kaum laki-laki. Perempuan hanya dibebani setumpuk kewajiban untuk melayani kaum laki-laki, tanpa diimbangi dengan hak mereka sebagai perempuan, yang juga punya perasaan dan keinginan. Keinginan untuk mendapatkan pendidikan, untuk menentukan sendiri laki-laki yang akan menjadi suaminya, dan untuk mendidik anak mereka dengan ilmu yang dimilikinya. Sementara itu, kaum lelaki dijadikan raja, tempat perempuan mengabdikan diri, dan menjadi budak. Selain bebas memperoleh kesempatan pendidikan, laki-laki pun bebas menentukan perempuan mana yang akan dijadikan istrinya, dan bebas pula untuk menikahi perempuan lain walaupun ia sudah beristri.

Kartini dan Emansipasi

Pemahaman Kartini yang dalam tentang arti perempuan dalam kehidupan laki-laki, yang juga berdasarkan Islam, dapat kita lihat dalam suratnya yang lain kepada Nona Zeehandelar, serta Tuan dan Nyonya Anton sebagai berikut:
“Allah menjadikan perempuan akan jadi teman laki-laki, dan tujuan hidupnya adalah bersuami. Benar, tiada tersangkal dan dengan senang hati aku mengakui bahwa bahagia perempuan yang sebenarnya, berabad-abad kemudian pada ini pun demikian juga, ialah: hidup bersama-sama dengan laki-laki dengan damai dan selaras! Tetapi betapakah mungkin hidup bersama-sama dengan damai dan selaras, bila aturan kawin kami demikian, seperti yang kuuraikan itu?”

“Alangkah berbahagianya laki-laki, bila perempuannya bukan saja menjadi pengurus rumah tangganya, ibu anak-anaknya saja, melainkan juga menjadi sahabatnya, yang menaruh minat akan pekerjaannya itu. Hal yang sedemikian itu tentulah berharga benar bagi kaum laki-laki, yaitu bila dia bukan orang yang picik pemandangannya dan angkuh. Kami di sini meminta, yang memohonkan, meminta dengan sangatnya supaya diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan itu saingan orang laki-laki dalam perjuangan hidup ini – oleh sebab sangat yakin akan besar pengaruh yang mungkin datang dari kaum perempuan – hendak menjadikan perempuan itu lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan oleh alam sendiri ke dalam tangannya; menjadi ibu – pendidik manusia yang pertama-tama”.

Saya terkagum-kagum dengan pemikiran Kartini tentang perempuan. Betapa tidak! Mengapa justru dari seorang Kartini, yang lahir dari seorang istri kedua, tumbuh pemikiran yang sangat mendalam tentang hakikat perempuan. Dari seorang anak perempuan yang mempunyai kedekatan emosional dengan ayahnya, tetapi tidak mempunyai kedekatan emosional dengan ibunya! Menurut Kartini, di tangan para perempuan lah terletak nasib generasi penerus. Bagaimana mungkin akan lahir generasi penerus yang lebih baik dari mereka, bila sang ibu, sebagai pendidik pertama anak-anak mereka, tidak dibekali pengetahuan yang layak. Karena itu perempuan harus diberi kesempatan yang sama dengan kaum laki-laki dalam bidang pendidikan. Itulah yang menjadi cita-cita Kartini, persamaan hak antara kaum perempuan dan kaum laki-laki dalam memperoleh pendidikan, atau yang lebih kita kenal dengan istilah emansipasi.
Dari surat-suratnya tersebut, dapat kita lihat ternyata emansipasi versi Kartini hanyalah emansipasi sederhana, dalam arti sempit, terbatas dalam wilayah domestik. Tetapi emansipasi perempuan sekarang sudah berkembang lebih jauh ke dalam wilayah publik. Menurut saya pribadi, hal itu sah-sah saja, selama perempuan tidak melupakan wilayah domestiknya. Seperti yang diungkapkan oleh Dr. Ratna Megawangi, dalam acara Interupsi dengan topik “Kartini Kartono” tanggal 22 April 2002 pada salah satu stasiun televisi swasta, adanya PRT (pembantu rumah tangga) memungkinkan hal itu terjadi. Sebagian tanggung jawab wilayah domestik kaum perempuan terbantu dengan adanya PRT. Atau, bisa juga tanggung jawab wilayah domestik itu diambil alih sebagian oleh seorang suami, seperti yang dilakukan oleh Ir. Dhana Darsono, suami Emmy Hafidz. Di sanalah diperlukan kebesaran hati kaum laki-laki untuk dapat menerima keadaan, berbagi tugas dengan sang istri dalam wilayah domestik perempuan. Mungkin tipe suami seperti itulah yang dimaksud Kartini dengan suami yang tidak picik pandangannya. Atau “Kartono”, figur suami ideal yang didambakan Kartini

“Dosa” Poligami

Walaupun poligami merupakan hal yang lumrah dalam adat istiadat Jawa pada waktu itu, dan juga dibenarkan oleh ajaran Islam, Kartini menganggap perbuatan itu sangat menyakitkan hati para istri. Tindakan menyakiti istri sama dengan menyakiti sesama, dan menyakiti sesama adalah perbuatan dosa. Karena itu, menurut Kartini, poligami adalah dosa!
Bila kita renungkan lebih dalam, pernyataan Kartini tentang dosa poligami tersebut justru menunjukkan betapa dalamnya pemahaman Kartini tentang dosa menyakiti sesama dan arti perempuan dalam kehidupan laki-laki. Mengapa? Selama ini, pengertian dosa, terutama dosa menyakiti sesama, selalu kita pahami dan maknai dengan perbuatan menyakiti orang lain, selain orang tua kita. Sering kita dengar ungkapan doraka ka kolot, doraka ka salaki, doraka ka si Fulan, dsb. Jarang sekali kita dengar ungkapan doraka ka pamajikan! Seolah-olah hanya kaum istri saja yang bisa berdosa kepada suaminya, karena kekurangannya dalam berkhidmat kepada suami. Ketika ada masalah terjadi dalam rumah tangga mereka, misalnya perselingkuhan suami, yang dijadikan alasan pertama adalah kekurangan sang istri dalam menghadapi suami, dalam mengurus rumah tangga, dalam mengurus anaknya, dsb. Kesalahan ditimpakan kepada istri karena tidak bisa menjalankan tugas membina rumah tangga. Padahal membina rumah tangga bukan hanya tugas seorang istri, tetapi tugas berdua, suami dan istri. Mengapa selalu istri yang disalahkan dahulu? Apakah hal tersebut tidak menunjukkan ketidakmampuan sang suami dalam mendidik istrinya membina rumah tangga mereka?
Poligami adalah hal yang dibenarkan dalam Islam, bukan suatu tindakan tercela. Ada berbagai macam alasan yang dapat dikemukan oleh suami untuk melakukan poligami. Salah satu alasan yang sering kita dengar adalah karena kekurangan istri dalam satu atau banyak hal. Saya pribadi masih bisa menerima bila seorang suami melakukan poligami karena sang istri tidak dapat memenuhi kebutuhan batin suaminya selamanya, atau karena tidak bisa mendapatkan keturunan dari sang istri. Sebagaimana kita ketahui, salah satu tujuan pernikahan adalah untuk memenuhi kebutuhan seks dan memperoleh keturunan. Tetapi bila alasannya karena kekurangan istri dalam hal-hal tertentu, saya balik bertanya, apakah suami itu sendiri sudah berlaku sempurna kepada istrinya? Bukankah tidak ada manusia yang sempurna di atas dunia ini? Lalu, mengapa para suami begitu egoisnya untuk mengajukan alasan tersebut.
Lain lagi di kalangan ulama. Banyak ulama yang beristri lebih dari satu. Saking banyaknya ulama yang beristri lebih dari satu, ada lelucon yang mengatakan, “kalau belum beristri dua belum bisa disebut ulama”, atau “ulama beristri dua karena mengikuti sunnah Rasul”! Khusus di kalangan istri ulama, lelucon yang beredar adalah “untuk jadi istri di pintu surga, harus rela dimadu”! Saya menganggap ucapan itu lelucon, karena ucapan-ucapan seperti itu sangat tidak masuk akal. Bagaimana mungkin kadar seorang ulama diukur dengan jumlah istri! Bagaimana mungkin kadar perilaku yang mengikuti sunah Rasul dibuktikan dengan mempunyai beberapa orang istri. Bukankah Rasulullah menikahi wanita-wanita lain itu hanya karena menghadapi situasi darurat, dalam rangka memperjuangkan hak perempuan? Bagaimana mungkin pula seorang perempuan bisa masuk surga hanya karena mengizinkan suaminya beristri lagi, tanpa diikuti amal salih lainnya?
Walaupun demikian, dalam kenyataannya, lelucon tersebut dapat diterima sebagai hal yang lumrah terjadi dalam kehidupan masyarakat kita. Tetapi bila para suami mau merenungkan lebih jauh tentang arti perempuan dalam kehidupan mereka, saya yakin mereka akan berpikir ulang untuk melakukannya. Bukan karena ungkapan perasaan perempuan seperti Kartini. Tetapi karena seorang laki-laki tahu betul bahwa ia dilahirkan dari rahim seorang perempuan! Karena kasih sayang seorang perempuanlah, seorang laki-laki tumbuh dan berkembang menjadi dirinya. Karena kasih sayang perempuan pula, seorang laki-laki bisa beraktualisasi maksimal, baik sebagai seorang anak, suami, ayah, dan bagian dari masyarakat. Anak dari ibunya, suami dari istrinya, ayah dari anaknya! Akankan ia tega menyakiti hati perempuan, atau sesama kaum perempuan seperti ibunya, yang telah ikut membantunya mengembangkan diri secara maksimal? Atau, tegakah hatinya bila kelak, anak perempuannya pun diperlakukan sama oleh suaminya?
Melalui tulisan ini, saya mengajak kaum perempuan untuk melanjutkan cita-cita Kartini, memberdayakan diri secara maksimal dalam wilayah domestik kita. Di tangan kitalah terletak nasib generasi penerus. Dengan dukungan dan kerjasama suami kita, insya Allah akan kita bentuk generasi penerus yang lebih baik dari kita generasi kita. Bagi Anda, perempuan yang juga merambah wilayah publik, jangan lupakan wilayah domestik Anda. Jangan sampai hal ini menjadi alasan bagi suami Anda untuk berpoligami karena tetap menginginkan Anda yang mengurus wilayah domestiknya. Bravo Kartini! Bravo perempuan Indonesia!

*) Tulisan ini pernah dimuat di HU Pikiran Rakyat, April 2002

Advertisements

Leave a comment »

JALAN HIDUPKU

Ketika saya mulai bergabung di FB, menantu saya memasang foto saya bersama seorang bayi. Kemudian, foto itu saya ganti. Kali ini foto saya bersama suami dan bayi tersebut. Beberapa teman menyangka bayi itu adalah anak kami. Padahal, bayi itu cucu kami, Muhammad Alif Arzady. Pertanyaan berikutnya yang muncul: ” Emang Rema udah punya cucu?”
Pertanyaan yang wajar. Menurut ukuran standar, saya memang belum waktunya punya cucu. Umur saya baru mau 47 kok!  Tapi, jalan hidup saya memang berbeda dengan teman-teman yang lain. Takdir menentukan saya harus memunyai cucu di usia saya ke 45 tahun.

Beberapa teman dekat sudah mengetahui cerita berikut, tapi sebagian besar belum tahu. Karena itu sengaja saya post– kan cerita saya ini. Cerita yang pernah beredar juga di beberapa milis yang saya ikuti.

Sabtu, 6 Januari 2007
Malam itu, seperti biasa, aku sedang rebahan di kamar. Aan, suamiku, sedang asyik nonton bola di ruang tv. Tiba-tiba, Reza, anak sulungku, masuk kamar, dan duduk di kursi yang ada. Selintas terpikir, ada apa dengan anakku… sepertinya ada yang ingin dia ceritakan.. Ternyata memang iya.. ada yang ingin dia sampaikan kepadaku…

Reza memulai pembicaraan dengan menanyakan pendapatku tentang nikah muda. Sebulan ke belakang ia memang agak sering menanyakan pendapatku tentang nikah muda. Selama itu pula, aku memang selalu menghindar utk menjawabnya. Aku takut ia ingin mengajukan permohonan untuk menikah muda. Dia memang punya pacar, anak seorang ajengan di Serang. Aku sering berkata kepada orang, aku takut anakku dinikahkan oleh ayah pacarnya..

Waktu itu aku malah balik bertanya, ”Kenapa sih nanya nikah muda terus? Emang Kaka udah mau nikah? Janganlah Kak… kamu masih terlalu muda, kuliah aja baru mulai… !”
Gimana kalau udah?” jawab anakku balik bertanya dengan ekspesi ”tanpa dosa”
”Kapan, di mana, ama siapa?” tanyaku tak percaya.. Aku masih menganggap jawabannya hanya untuk menpermainkanku.
”20 Juli 2005, di Serang, dinikahin ama kakeknya Dhe (nama panggilan pacarnya)!” jawab anakku dengan tegas..
”Astaghfirullah Esa….., ” hanya itu yang mampu kuucapkan mendengar jawaban anakku.. Aku tak sanggup menjerit… Aku takut suamiku akan bertanya, dan aku yakin akan terjadi ”perang dunia” bila ia mendengar berita ini.. Sementara, minggu depan, anakku harus ujian.. aku tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi nanti… Aku berjuang menahan emosiku dengan menyebut nama Allah, dengan dada sesak… sakit…! Aku mencoba menenangkan diri, dan mengonfirmasi berita ini..
”Kamu nikah waktu ngilang 2 hari di Serang?” tanyaku. Dua tahun yang lalu, dia pernah pamit untuk mengantar pacarnya ke Serang. Waktu itu aku izinkan, dengan catatan ia harus segera kembali malam harinya. Tapi apa yang terjadi? Dua hari aku kehilangan kontak, ia menghilang, tidak bisa dihubungi. HP-nya dan HP Dhe, tidak bisa dihubungi. Ketika ia pulang, 2 hari kemudian, ia punya alasan yang masuk akal. Katanya ia diajak Abi (panggilan ayahnya Dhe) ke kebunnya di gunung. Karena hujan terus menerus, mereka tidak bisa kembali ke kota. Di sana tidak ada sinyal HP. Masuk akal kan? Aku dan suamiku marah besar kepadanya, dan sejak hari itu aku mengultimatum anakku: ”Mama hanya tahu kalian berteman, tidak untuk serius. Nggak usah ngedeket-deketin Dhe ama Mama, nggak usah bawa-bawa Dhe ke rumah!” Aku mengatakan semua itu karena aku lihat anakku pacarannya serius, dan ia selalu berusaha mendekatkan Dhe kepadaku dan adiknya!

”Ya,” jawab anakku dengan tenang. Masya allah… betapa tenangya ia berbicara!
Ternyata, pada saat itulah anakku menikahkan dirinya sendiri, tanpa sepengetahuan kami. Ia menikah resmi, dengan mas kawin seperangkat alat salat dan uang tunai Rp.500.000,00. disaksikan oleh keluarga besar istrinya. Ia memang pernah dipanggil dan diultimatum oleh ayahanda Dhe: tidak boleh pacaran. Kalau mau terus, nikahi Dhe, atau tinggalkan Dhe! Rupanya, karena cintanya kepada Dhe, ia nekad meneruskan hubungan, dan menikahi Dhe. Ia tidak berani mengatakannya kepada kami, karena tahu sikap kami terhadap hubungan mereka.
”Kenapa baru bilang sekarang? Hamil?” apalagi yang dapat dikatakan seorang ibu ketika mendengar kenyataan ini.
”Ya,” lagi-lagi anakku mengiyakan.
”Mau ngidupin anak istri pake apa Kak? Gimana kuliah kamu? Masih mau kuliah nggak?” tanyaku beruntun… Anakku baru memulai semester pertamanya di FK Unisba, setelah tahun lalu, Manajemen Unpad dia tinggalkan karena tidak sesuai dengan keinginannya…

”Esa masih pengen jadi dokter, Mah! Kalau Mamah izinkan, Esa masih mau terus kuliah, jawab anakku..
Di tengah berkecamuknya perasaanku, aku hanya bisa berkata pada anakku: ”Oke… Kita keep dulu masalah ini… Kamu ujian aja dulu… Mama baru akan bicarakan masalah ini ama Papa minggu depan, setelah kamu ujian…

Ya Allah… apa yang terjadi di keluargaku ini? Aku, Rema, Ibu RT di keluarga besarku, keluarga yang biasa dijadikan contoh di keluarga besarku, harus mengalami nasib seperti ini? Anakku, Reza, yang manis dan pandai menyenangkan hati orang itu, menikah diam-diam? Melanggar etika kepada orang tua! Apa yang harus kukatakan kepada suamiku? Ayahku? Mertuaku? Saudara-saudaraku? Keluarga besarku? Inikah hasil pendidikan SMP dan SMA Islam yang ia tempuh? Seribu pertanyaan bermunculan di benakku.

Tapi aku segera sadar, ini adalah kehendak Allah! Kita hanya bisa berencana, tapi Allah lah yang menentukan. Aku tidak pernah bermimpi akan menjadi nenek di usiaku yang baru 45 tahun. Tapi inilah jalan Allah yang harus kulalui. Aku harus menerimanya. Bukankah Allah tidak pernah menguji umatnya di luar kemampuan ybs? Di tengah kegundahanku, aku masih sempat tersenyum, ini praktik langsung dari naskah buku Al-Ikhlash yang sedang kuedit. Aku harus ikhlas menerima semua ini… Dan yang paling kusyukuri, anakku tidak berbuat maksiat.. Ia menikahi Dhe, justru karena menghindari maksiat..

Selama satu minggu, aku rahasiakan masalah ini dari suamiku. Aku hanya bicara pada ”guruku”, satu-satunya orang yang dapat kupercaya dan dapat menasihatiku dengan bijak dalam situasi seperti ini. Dari nasihat beliau, aku semakin yakin, inilah jalan hidup yang telah ditentukan Allah untukku dan keluarga besarku. Selama satu minggu itu pula aku selesaikan tugasku di kampus, menguji mhs (UTS) dan di kantor (menyiapkan buku Al-Ikhlash untuk acara Pameran Buku Bandung), dengan catatan aku perlu waktu pada minggu berikutnya untuk menyelesaikan masalah keluargaku. Selama itu pula aku tidak membicarakan masalah Dhe kepada Reza. Aku berusaha untuk bersikap biasa, dan memberi semangat kepadanya untuk menghadapi ujian tanggal 13 Januari.

Sabtu, 13 Januari 2007

Hari ini anakku ujian lisan di kampusnya. Sejak tadi malam, kepalaku sakit.. Mungkin karena stres, harus membicarakan masalah Reza kepada suamiku..
Alhamdulillah, Reza lulus dengan nilai yang baik kali ini, padahal sesi sebelumnya ia gagal! Rupanya, karena sudah merasa lepas beban, ia bisa belajar dengan baik. Aku jadi ingat, setahun ke belakang, aku merasa sikap Esa jadi beda. Ia lebih sensitif, dan cenderung menutup diri. Kadang aku lihat sikapnya seperti sedang menanggung beban berat. Kalau kutanya, ia selalu menjawab, ”nggak ada apa-apa”.

Malamnya, aku coba bicara kepada Aan, tentang masalah Reza. Dapat Anda bayangkan, bagaimana kaget, marah, dan sakit hatinya seorang ayah mendengar berita seperti ini.. Anaknya menikah diam-diam! Dianggap apa kami ini? Aku biarkan suamiku marah kepada anak kami. Ini PENTING! Anakku harus menerima risiko itu. Suamiku pun harus keluar emosinya. Aku takut, bila ia memendam amarahnya, malah ia yang akan jatuh sakit. Alhamdulillah, Allah Maha Besar, setelah emosinya reda, suamiku malah berkata: ” Udahlah Sa… Nasi udah jadi bubur. Mari kita bikin bubur yang enak.” Betapa indah ucapan suamiku… betapa besar jiwanya… betapa saleh sikapnya.. Ya Allah… Terima kasih… Kau berikan kesabaran dan kekuatan pada suamiku tercinta.

Selasa, 16 Januari 2007
Jam 06.00, kami berempat, aku, Aan, Reza, dan guruku, berangkat ke Serang, untuk mengklarifikasi dan menindaklanjuti masalah anak kami. Sengaja aku bawa guruku, yang juga orang Banten, yang aku anggap mampu untuk menengahi kami, bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Alhamdulillah, setibanya kami di sana pada pk.10.00, pertemuan berlangsung dengan damai. Kami mendapat penjelasan dan jawaban yang logis dan etis dari ayahanda Dhe: Betapa kuat akidah yang dipegang oleh kel. mereka, sehingga mereka tidak mengizinkan anaknya berpacaran dan berbuat maksiat; betapa meyakinkannya jawaban Esa ketika ditanya, apakah kami orang tuanya sudah tahu dan memberi izin; dan betapa Abi berkali-kali ingin mampir ke rumah kami, tapi urung, karena takut terjadi konflik, dst.
Alhamdulillah, masalah dengan besan sudah teratasi. Tinggal bagaimana membicarakan hal ini kepada ayah dan saudaraku, mertuaku, dan pamanku yang menjadi datuk di kaum kami, dan keluarga besar kami.

Rabu, 17 Januari 2007
Hari ini, sengaja aku undang kakakku Arfan, untuk datang ke Ciateul (rumah Papah), untuk membicarakan masalah Esa. Seperti telah keduga, Papah dan Arfan (satu-satunya paman Esa yang masih hidup, yang sangat sayang pada Esa) sangat kaget mendengar cerita kami. Arfan pula, orang pertama, yang mendukung tindakan Esa –walaupun menyayangkan kenapa Esa tidak bicara kepadanya— dengan mengatakan bangga memunyai keponakan yang masih memegang teguh akidah. Haree geenee... masih ada anak SMA yang takut berbuat maksiat? Dukungan selanjutnya datang dari ayahku… alhamdulillah.. Mereka malah menyarankan untuk segera mengumumkan pernikahan Esa, untuk menjaga fitnah. Selanjutnya tinggal memberitahu kakak dan adikku yang lain, mertuaku di Tasik, pamanku, dan yang lainnya. Berbagai macam komentar yang kudengar dari mereka. Tapi, secara umum, mereka menerima keadaan ini, dan siap membantu untuk pelaksanaan acara syukuran anakku. Yang juga membuatku berbesar hati adalah pernyataan dan sikap pamanku, datuk di kaumku. Ia mengatakan bahwa kami harus bangga memunyai anak yang saleh seperti Esa, yang menjaga kesucian dirinya di zaman seperti ini. Alhamdulillah…

Sabtu, 17 Februari 2007.
Hari itu kami menyelenggarakan syukuran pernikahan anak kami, Reza dan Diah (Dhe). Karena keterbatasan tempat, kami memang tidak mengundang semua teman. Karena itu, kami mohon maaf kepada teman-teman. Mohon doanya agar anak kami menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah… Amin.

Itulah cerita tentang kenapa saya sudah punya cucu. Ternyata seneng banget punya cucu tuh. Sayang cucu lain banget dengan sayang anak. Sama anak kita bisa marah, tapi sama cucu,  kita nggak akan tega. Sekarang umurnya 22 bulan, udah bisa jalan, bisa ngomong, dan bisa diajak jalan jalan bertiga: Alif, Nin Rema dan Aki Aan.

Satu hal yang perlu kita pikirkan: Bila kita melihat anak kita sudah memunyai pacar yang kelihatan sudah serius, dan kita ingin menghindari maksiat dan tuntutan Allah di akhirat kelak, tidak ada salahnya mereka kita nikahkan. Tentu saja dengan berbagai kondisi yang perlu kita bicarakan bersama, misalnya tinggal gantian di rumah orang tua masing-masing, uang kuliah ditanggung masing-masing orang tua, dan tunda kehamilan sampai istri selesai kuliah.

Leave a comment »

O, PRT… Berartinya Dirimu!

Pagi tadi, saya bisa bangun agak siang. Beberapa hari ke belakang, setelah salat subuh saya tidak bisa tidur lagi karena harus mengajari pembantu rumah tangga (PRT) saya yang baru tentang tugas-tugas yang harus dia lakukan setiap hari. Cape juga ternyata..! Cape karena saya sudah lama sekali tidak mengajari PRT! Seingat saya, sudah 21 tahun saya tidak mengajari PRT, sejak saya belajar hidup mandiri, membina rumah tangga sendiri.

Saya menikah pada tahun 1986. Sebagai orang Minang, alm ibu saya masih memegang adat istiadat lama, menghormati menantu pria di rumahnya. Sekira 2 tahun kami tinggal di rumah orang tua saya. Setelah saya melahirkan pada 1987, kemudian pindah ke rumah kami pada 1988, saya “dibekali” seorang PRT oleh ibu. Pada saat itulah saya belajar mengurus rumah sendiri , dibantu seorang PRT yang merangkap pengasuh anak, Bi Edah (janda), dan seorang penjaga rumah (pria). Itulah pengalaman pertama saya mengajari PRT.

Waktu itu, setelah pulang kantor, saya selalu menyempatkan diri untuk memasak makanan utama hari itu untuk suami. Tetapi, sejak saya melahirkan anak kedua pada 1990, dan saya “diurus” oleh Mbok Temu, pengasuh saya dulu, saya tidak lagi memasak sendiri. Rupanya karena keenakan diurus Mbok selama 40 hari, saya jadi malas memasak. Sebelum Mbok Temu pulang, saya menambah PRT baru. Mbok Temu dan Bi Edah lah yang mengajari PRT baru kami. Sejak itu, saya dibantu 2 orang PRT, satu bertugas mengurus rumah tangga dan satunya mengasuh anak.

Karena tidak ada kecocokan dengan Bi Edah, PRT baru minta berhenti bekerja. Masalahnya karena berbeda suku, budaya, dan usia, komunikasi antarmereka tidak berjalan harmonis. Ternyata paradigma “sesama PRT dilarang berbeda suku” berlaku juga di rumah saya. Untunglah Bi Edah memunyai adik sepupu yang mau ikut bekerja di rumah kami, Bi Eti, seorang janda. Saya nggak perlu repot-repot lagi mengajari Bi Eti, karena ada Bi Edah. Saya percayakan betul urusan rumah kepada mereka berdua. Mereka pun berbagi tugas dalam mengasuh kedua anak kami. Bi Edah mengasuh Reza, sedangkan Bi Eti mengasuh Reni.

Setelah lebih 10 tahun bekerja, Bi Edah mengundurkan diri karena akan menikah. Lagi-lagi saya beruntung, Bi Eti memunyai adik kandung yang mau bergabung. Namanya Bi Yati, yang juga berstatus janda. Lagi-lagi, saya nggak perlu repot mengajari Bi Yati karena sudah ada Bi Eti. Alhamdulillah, untuk urusan PRT ini saya benar-benar mendapat kemudahan. PRT yang bekerja di rumah kami bisa betah bekerja bertahun-tahun. Walaupun bersaudara, mereka tidak pernah pulang kampung bersama, kecuali lebaran. Ketika lebaran pun, mereka pulang pada H-1 diantar supir ke kampungnya di Ciparay. Mereka kembali bekerja pada H+3 atau H+4, setelah saya kembali dari Tasik, berlebaran ke mertua. Karena itu, selama libur lebaran, praktis saya hanya mengerjakan pekerjaan rumah tangga 1-2 hari saja.

Pada akhir 2006, giliran Bi Eti yang mengundurkan diri karena akan menikah. Alhamdulillah, saya mendapat PRT baru dengan mudah, tapi punya suami! Namanya Bi Ida. Lagi-lagi saya tidak perlu mengajari PRT baru karena ada Bi Yati. Pada pertengahan tahun 2007, Bi Ida hamil. Mau tidak mau, ia harus berhenti bekerja. Alhamdulillah, sekali lagi saya diberi kemudahan oleh Allah swt, Bi Eti minta bekerja lagi! Sayangnya, ia hanya bertahan 5 bulan saja. Karena satu dan lain hal, kembali ia mengundurkan diri. Dengan situasi rumah yang telah berbeda, penghuninya tinggal saya, suami, dan si bungsu, rasanya satu orang PRT pun sudah cukup. Akhirnya tinggal Bi Yati sendiri yang mengurus rumah tangga keluarga saya.

Pada akhir 2007, Bi Yati pun dilamar orang. Ia, satu-satunya PRT saya yang lama, akhirnya mengundurkan diri. Untunglah calon suaminya menyediakan pengganti dan memberi waktu kepada Bi Yati untuk mengajari ybs. Saya pun bebas dari tugas mengajarim PRT baru.

Dengan PRT baru inilah saya mulai punya masalah. Rupanya bekerja baginya hanya sarana untuk mencari jodoh. Setelah beberapa bulan bekerja, ia punya pacar. Malam hari ia sering nongkrong di halaman depan rumah, berkencan dengan pacarnya. Ujungnya, mereka menikah pada malam lebaran 2008. Sesudah ia menikah, ia masih sempat bekerja sebentar sambil memberi kesempatan kepada saya untuk mencari dan mengajari PRT yang baru. Alhamdulillah, dalam waktu singkat, saya berhasil mendapatkan penggantinya. Lagi-lagi saya bebas dari tugas mengajari PRT!

Masalah timbul ketika PRT baru ini, Tia, minta izin pulang kampung untuk menyelenggarakan resepsi pernikahannya. Ia memang baru menikah dan belum pesta. Walau kesal, saya izinkan juga ia pulang kampung dulu. Ternyata, ia jatuh sakit di kampung karena kecapean. Akhirnya, selama 2 minggu saya jadi Oshin. Kebayang kan, gimana hebohnya saya yang udah berpuluh tahun nggak ngurusi rumah? Sampai sakit-sakit badan saya karena harus bangun pagi setiap hari, membereskan rumah, mencuci, dan lain-lain!

Ketika Tia kembali, rasanya saya jadi orang paling bahagia sedunia karena bebas dari pekerjaan rumah tangga! Sayangnya, kebebasan ini hanya bertahan 2 bulan. Akhir bulan lalu, kembali Tia minta izin pulang sebentar karena adiknya perlu uang. Dengan terpaksa saya izinkan dia pulang hari Minggu pagi (29/3) dengan janji ia akan kembali Senin malam (30/3). Entah kenapa, saya punya feeling lain dengan pulangnya Tia hari itu. Ketika saya periksa kamarnya, tidak ada sepotongpun barang pribadinya. Saya curiga, jangan-jangan dia nggak balik lagi… Ternyata benar! Hari Senin malam ia meng-sms saya tidak bisa kembali ke Bandung dalam waktu dekat, dan ia minta saya untuk mencari penggantinya. OMG! Jadi deh: bangun pagi, ngerebus air, nyapu rumah, nyuci, dan nyetrika lagi!

Syukur alhamdulillah, saya masih diberi kemudahan oleh Allah swt. Tanggal 31 Maret kemarin saya dapat PRT baru, mantan pengasuh cucu saya. Sekarang ia sudah bekerja di rumah saya. Inilah pengalaman kedua saya mengajari PRT, setelah 21 tahun berlalu. Aneh rasanya…mengajari  lagi PRT tentang tugas-tugas rumah tangga yang selama ini sudah saya limpahkan secara kepada para PRT sebelumnya secara “turun-temurun”.

Kejadian ini menyadarkan saya untuk tidak melupakan tugas  sebagai ibu rumah tangga, setelah sekian lama saya terlena karena diberi kemudahan dalam urusan rumah tangga. Saya juga bisa merasakan arti dan fungdi PRT dalam kehidupan saya. PRT lah yang membuat urusan rumah “aman terkendali” sehingga saya bisa bekerja, mengajar, dan bepergian ke tempat yang yang saya suka dengan perasaan tenang. Saya hanya berdoa semoga PRT saya yang baru bisa betah bekerja seperti PRT saya yang lama (Bi Edah, Bi Eti, dan Bi Yati). Terima kasih ya Bi… sudah membantu saya sekian lama, membuat urusan rumah saya aman terkendali. Semoga Allah swt membalas jasa mereka dengan pahala yang setimpal.

Tips:

  • Cari PRT sebaiknya yang sudah pernah menikah/ berumah tangga. Kita tidak terlalu sulit mengajarinya.
  • Sesama PRT sebaiknya tidak berbeda suku agar  tidak terjadi konflik di antara mereka.
  • Sebagai ibu rumah tangga kita tidak boleh terlalu bergantung kepada PRT sehingga kita tidak kelimpungan ketika mereka berhenti
  • Ajari anak-anak kita kita , terutama anak perempuan,  untuk mengenal dan mau melakukan pekerjaan rumah tangga sehingga kita tidak cape sendiri ketika ditinggal PRT. Dan, yang paling penting, kita telah  membekali mereka dengan ilmu kerumahtanggaan. Kita tidak akan menerima keluhan dari suami mereka kelak

Leave a comment »