O, PRT… Berartinya Dirimu!

Pagi tadi, saya bisa bangun agak siang. Beberapa hari ke belakang, setelah salat subuh saya tidak bisa tidur lagi karena harus mengajari pembantu rumah tangga (PRT) saya yang baru tentang tugas-tugas yang harus dia lakukan setiap hari. Cape juga ternyata..! Cape karena saya sudah lama sekali tidak mengajari PRT! Seingat saya, sudah 21 tahun saya tidak mengajari PRT, sejak saya belajar hidup mandiri, membina rumah tangga sendiri.

Saya menikah pada tahun 1986. Sebagai orang Minang, alm ibu saya masih memegang adat istiadat lama, menghormati menantu pria di rumahnya. Sekira 2 tahun kami tinggal di rumah orang tua saya. Setelah saya melahirkan pada 1987, kemudian pindah ke rumah kami pada 1988, saya “dibekali” seorang PRT oleh ibu. Pada saat itulah saya belajar mengurus rumah sendiri , dibantu seorang PRT yang merangkap pengasuh anak, Bi Edah (janda), dan seorang penjaga rumah (pria). Itulah pengalaman pertama saya mengajari PRT.

Waktu itu, setelah pulang kantor, saya selalu menyempatkan diri untuk memasak makanan utama hari itu untuk suami. Tetapi, sejak saya melahirkan anak kedua pada 1990, dan saya “diurus” oleh Mbok Temu, pengasuh saya dulu, saya tidak lagi memasak sendiri. Rupanya karena keenakan diurus Mbok selama 40 hari, saya jadi malas memasak. Sebelum Mbok Temu pulang, saya menambah PRT baru. Mbok Temu dan Bi Edah lah yang mengajari PRT baru kami. Sejak itu, saya dibantu 2 orang PRT, satu bertugas mengurus rumah tangga dan satunya mengasuh anak.

Karena tidak ada kecocokan dengan Bi Edah, PRT baru minta berhenti bekerja. Masalahnya karena berbeda suku, budaya, dan usia, komunikasi antarmereka tidak berjalan harmonis. Ternyata paradigma “sesama PRT dilarang berbeda suku” berlaku juga di rumah saya. Untunglah Bi Edah memunyai adik sepupu yang mau ikut bekerja di rumah kami, Bi Eti, seorang janda. Saya nggak perlu repot-repot lagi mengajari Bi Eti, karena ada Bi Edah. Saya percayakan betul urusan rumah kepada mereka berdua. Mereka pun berbagi tugas dalam mengasuh kedua anak kami. Bi Edah mengasuh Reza, sedangkan Bi Eti mengasuh Reni.

Setelah lebih 10 tahun bekerja, Bi Edah mengundurkan diri karena akan menikah. Lagi-lagi saya beruntung, Bi Eti memunyai adik kandung yang mau bergabung. Namanya Bi Yati, yang juga berstatus janda. Lagi-lagi, saya nggak perlu repot mengajari Bi Yati karena sudah ada Bi Eti. Alhamdulillah, untuk urusan PRT ini saya benar-benar mendapat kemudahan. PRT yang bekerja di rumah kami bisa betah bekerja bertahun-tahun. Walaupun bersaudara, mereka tidak pernah pulang kampung bersama, kecuali lebaran. Ketika lebaran pun, mereka pulang pada H-1 diantar supir ke kampungnya di Ciparay. Mereka kembali bekerja pada H+3 atau H+4, setelah saya kembali dari Tasik, berlebaran ke mertua. Karena itu, selama libur lebaran, praktis saya hanya mengerjakan pekerjaan rumah tangga 1-2 hari saja.

Pada akhir 2006, giliran Bi Eti yang mengundurkan diri karena akan menikah. Alhamdulillah, saya mendapat PRT baru dengan mudah, tapi punya suami! Namanya Bi Ida. Lagi-lagi saya tidak perlu mengajari PRT baru karena ada Bi Yati. Pada pertengahan tahun 2007, Bi Ida hamil. Mau tidak mau, ia harus berhenti bekerja. Alhamdulillah, sekali lagi saya diberi kemudahan oleh Allah swt, Bi Eti minta bekerja lagi! Sayangnya, ia hanya bertahan 5 bulan saja. Karena satu dan lain hal, kembali ia mengundurkan diri. Dengan situasi rumah yang telah berbeda, penghuninya tinggal saya, suami, dan si bungsu, rasanya satu orang PRT pun sudah cukup. Akhirnya tinggal Bi Yati sendiri yang mengurus rumah tangga keluarga saya.

Pada akhir 2007, Bi Yati pun dilamar orang. Ia, satu-satunya PRT saya yang lama, akhirnya mengundurkan diri. Untunglah calon suaminya menyediakan pengganti dan memberi waktu kepada Bi Yati untuk mengajari ybs. Saya pun bebas dari tugas mengajarim PRT baru.

Dengan PRT baru inilah saya mulai punya masalah. Rupanya bekerja baginya hanya sarana untuk mencari jodoh. Setelah beberapa bulan bekerja, ia punya pacar. Malam hari ia sering nongkrong di halaman depan rumah, berkencan dengan pacarnya. Ujungnya, mereka menikah pada malam lebaran 2008. Sesudah ia menikah, ia masih sempat bekerja sebentar sambil memberi kesempatan kepada saya untuk mencari dan mengajari PRT yang baru. Alhamdulillah, dalam waktu singkat, saya berhasil mendapatkan penggantinya. Lagi-lagi saya bebas dari tugas mengajari PRT!

Masalah timbul ketika PRT baru ini, Tia, minta izin pulang kampung untuk menyelenggarakan resepsi pernikahannya. Ia memang baru menikah dan belum pesta. Walau kesal, saya izinkan juga ia pulang kampung dulu. Ternyata, ia jatuh sakit di kampung karena kecapean. Akhirnya, selama 2 minggu saya jadi Oshin. Kebayang kan, gimana hebohnya saya yang udah berpuluh tahun nggak ngurusi rumah? Sampai sakit-sakit badan saya karena harus bangun pagi setiap hari, membereskan rumah, mencuci, dan lain-lain!

Ketika Tia kembali, rasanya saya jadi orang paling bahagia sedunia karena bebas dari pekerjaan rumah tangga! Sayangnya, kebebasan ini hanya bertahan 2 bulan. Akhir bulan lalu, kembali Tia minta izin pulang sebentar karena adiknya perlu uang. Dengan terpaksa saya izinkan dia pulang hari Minggu pagi (29/3) dengan janji ia akan kembali Senin malam (30/3). Entah kenapa, saya punya feeling lain dengan pulangnya Tia hari itu. Ketika saya periksa kamarnya, tidak ada sepotongpun barang pribadinya. Saya curiga, jangan-jangan dia nggak balik lagi… Ternyata benar! Hari Senin malam ia meng-sms saya tidak bisa kembali ke Bandung dalam waktu dekat, dan ia minta saya untuk mencari penggantinya. OMG! Jadi deh: bangun pagi, ngerebus air, nyapu rumah, nyuci, dan nyetrika lagi!

Syukur alhamdulillah, saya masih diberi kemudahan oleh Allah swt. Tanggal 31 Maret kemarin saya dapat PRT baru, mantan pengasuh cucu saya. Sekarang ia sudah bekerja di rumah saya. Inilah pengalaman kedua saya mengajari PRT, setelah 21 tahun berlalu. Aneh rasanya…mengajari  lagi PRT tentang tugas-tugas rumah tangga yang selama ini sudah saya limpahkan secara kepada para PRT sebelumnya secara “turun-temurun”.

Kejadian ini menyadarkan saya untuk tidak melupakan tugas  sebagai ibu rumah tangga, setelah sekian lama saya terlena karena diberi kemudahan dalam urusan rumah tangga. Saya juga bisa merasakan arti dan fungdi PRT dalam kehidupan saya. PRT lah yang membuat urusan rumah “aman terkendali” sehingga saya bisa bekerja, mengajar, dan bepergian ke tempat yang yang saya suka dengan perasaan tenang. Saya hanya berdoa semoga PRT saya yang baru bisa betah bekerja seperti PRT saya yang lama (Bi Edah, Bi Eti, dan Bi Yati). Terima kasih ya Bi… sudah membantu saya sekian lama, membuat urusan rumah saya aman terkendali. Semoga Allah swt membalas jasa mereka dengan pahala yang setimpal.

Tips:

  • Cari PRT sebaiknya yang sudah pernah menikah/ berumah tangga. Kita tidak terlalu sulit mengajarinya.
  • Sesama PRT sebaiknya tidak berbeda suku agar  tidak terjadi konflik di antara mereka.
  • Sebagai ibu rumah tangga kita tidak boleh terlalu bergantung kepada PRT sehingga kita tidak kelimpungan ketika mereka berhenti
  • Ajari anak-anak kita kita , terutama anak perempuan,  untuk mengenal dan mau melakukan pekerjaan rumah tangga sehingga kita tidak cape sendiri ketika ditinggal PRT. Dan, yang paling penting, kita telah  membekali mereka dengan ilmu kerumahtanggaan. Kita tidak akan menerima keluhan dari suami mereka kelak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: