JALAN HIDUPKU

Ketika saya mulai bergabung di FB, menantu saya memasang foto saya bersama seorang bayi. Kemudian, foto itu saya ganti. Kali ini foto saya bersama suami dan bayi tersebut. Beberapa teman menyangka bayi itu adalah anak kami. Padahal, bayi itu cucu kami, Muhammad Alif Arzady. Pertanyaan berikutnya yang muncul: ” Emang Rema udah punya cucu?”
Pertanyaan yang wajar. Menurut ukuran standar, saya memang belum waktunya punya cucu. Umur saya baru mau 47 kok!  Tapi, jalan hidup saya memang berbeda dengan teman-teman yang lain. Takdir menentukan saya harus memunyai cucu di usia saya ke 45 tahun.

Beberapa teman dekat sudah mengetahui cerita berikut, tapi sebagian besar belum tahu. Karena itu sengaja saya post– kan cerita saya ini. Cerita yang pernah beredar juga di beberapa milis yang saya ikuti.

Sabtu, 6 Januari 2007
Malam itu, seperti biasa, aku sedang rebahan di kamar. Aan, suamiku, sedang asyik nonton bola di ruang tv. Tiba-tiba, Reza, anak sulungku, masuk kamar, dan duduk di kursi yang ada. Selintas terpikir, ada apa dengan anakku… sepertinya ada yang ingin dia ceritakan.. Ternyata memang iya.. ada yang ingin dia sampaikan kepadaku…

Reza memulai pembicaraan dengan menanyakan pendapatku tentang nikah muda. Sebulan ke belakang ia memang agak sering menanyakan pendapatku tentang nikah muda. Selama itu pula, aku memang selalu menghindar utk menjawabnya. Aku takut ia ingin mengajukan permohonan untuk menikah muda. Dia memang punya pacar, anak seorang ajengan di Serang. Aku sering berkata kepada orang, aku takut anakku dinikahkan oleh ayah pacarnya..

Waktu itu aku malah balik bertanya, ”Kenapa sih nanya nikah muda terus? Emang Kaka udah mau nikah? Janganlah Kak… kamu masih terlalu muda, kuliah aja baru mulai… !”
Gimana kalau udah?” jawab anakku balik bertanya dengan ekspesi ”tanpa dosa”
”Kapan, di mana, ama siapa?” tanyaku tak percaya.. Aku masih menganggap jawabannya hanya untuk menpermainkanku.
”20 Juli 2005, di Serang, dinikahin ama kakeknya Dhe (nama panggilan pacarnya)!” jawab anakku dengan tegas..
”Astaghfirullah Esa….., ” hanya itu yang mampu kuucapkan mendengar jawaban anakku.. Aku tak sanggup menjerit… Aku takut suamiku akan bertanya, dan aku yakin akan terjadi ”perang dunia” bila ia mendengar berita ini.. Sementara, minggu depan, anakku harus ujian.. aku tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi nanti… Aku berjuang menahan emosiku dengan menyebut nama Allah, dengan dada sesak… sakit…! Aku mencoba menenangkan diri, dan mengonfirmasi berita ini..
”Kamu nikah waktu ngilang 2 hari di Serang?” tanyaku. Dua tahun yang lalu, dia pernah pamit untuk mengantar pacarnya ke Serang. Waktu itu aku izinkan, dengan catatan ia harus segera kembali malam harinya. Tapi apa yang terjadi? Dua hari aku kehilangan kontak, ia menghilang, tidak bisa dihubungi. HP-nya dan HP Dhe, tidak bisa dihubungi. Ketika ia pulang, 2 hari kemudian, ia punya alasan yang masuk akal. Katanya ia diajak Abi (panggilan ayahnya Dhe) ke kebunnya di gunung. Karena hujan terus menerus, mereka tidak bisa kembali ke kota. Di sana tidak ada sinyal HP. Masuk akal kan? Aku dan suamiku marah besar kepadanya, dan sejak hari itu aku mengultimatum anakku: ”Mama hanya tahu kalian berteman, tidak untuk serius. Nggak usah ngedeket-deketin Dhe ama Mama, nggak usah bawa-bawa Dhe ke rumah!” Aku mengatakan semua itu karena aku lihat anakku pacarannya serius, dan ia selalu berusaha mendekatkan Dhe kepadaku dan adiknya!

”Ya,” jawab anakku dengan tenang. Masya allah… betapa tenangya ia berbicara!
Ternyata, pada saat itulah anakku menikahkan dirinya sendiri, tanpa sepengetahuan kami. Ia menikah resmi, dengan mas kawin seperangkat alat salat dan uang tunai Rp.500.000,00. disaksikan oleh keluarga besar istrinya. Ia memang pernah dipanggil dan diultimatum oleh ayahanda Dhe: tidak boleh pacaran. Kalau mau terus, nikahi Dhe, atau tinggalkan Dhe! Rupanya, karena cintanya kepada Dhe, ia nekad meneruskan hubungan, dan menikahi Dhe. Ia tidak berani mengatakannya kepada kami, karena tahu sikap kami terhadap hubungan mereka.
”Kenapa baru bilang sekarang? Hamil?” apalagi yang dapat dikatakan seorang ibu ketika mendengar kenyataan ini.
”Ya,” lagi-lagi anakku mengiyakan.
”Mau ngidupin anak istri pake apa Kak? Gimana kuliah kamu? Masih mau kuliah nggak?” tanyaku beruntun… Anakku baru memulai semester pertamanya di FK Unisba, setelah tahun lalu, Manajemen Unpad dia tinggalkan karena tidak sesuai dengan keinginannya…

”Esa masih pengen jadi dokter, Mah! Kalau Mamah izinkan, Esa masih mau terus kuliah, jawab anakku..
Di tengah berkecamuknya perasaanku, aku hanya bisa berkata pada anakku: ”Oke… Kita keep dulu masalah ini… Kamu ujian aja dulu… Mama baru akan bicarakan masalah ini ama Papa minggu depan, setelah kamu ujian…

Ya Allah… apa yang terjadi di keluargaku ini? Aku, Rema, Ibu RT di keluarga besarku, keluarga yang biasa dijadikan contoh di keluarga besarku, harus mengalami nasib seperti ini? Anakku, Reza, yang manis dan pandai menyenangkan hati orang itu, menikah diam-diam? Melanggar etika kepada orang tua! Apa yang harus kukatakan kepada suamiku? Ayahku? Mertuaku? Saudara-saudaraku? Keluarga besarku? Inikah hasil pendidikan SMP dan SMA Islam yang ia tempuh? Seribu pertanyaan bermunculan di benakku.

Tapi aku segera sadar, ini adalah kehendak Allah! Kita hanya bisa berencana, tapi Allah lah yang menentukan. Aku tidak pernah bermimpi akan menjadi nenek di usiaku yang baru 45 tahun. Tapi inilah jalan Allah yang harus kulalui. Aku harus menerimanya. Bukankah Allah tidak pernah menguji umatnya di luar kemampuan ybs? Di tengah kegundahanku, aku masih sempat tersenyum, ini praktik langsung dari naskah buku Al-Ikhlash yang sedang kuedit. Aku harus ikhlas menerima semua ini… Dan yang paling kusyukuri, anakku tidak berbuat maksiat.. Ia menikahi Dhe, justru karena menghindari maksiat..

Selama satu minggu, aku rahasiakan masalah ini dari suamiku. Aku hanya bicara pada ”guruku”, satu-satunya orang yang dapat kupercaya dan dapat menasihatiku dengan bijak dalam situasi seperti ini. Dari nasihat beliau, aku semakin yakin, inilah jalan hidup yang telah ditentukan Allah untukku dan keluarga besarku. Selama satu minggu itu pula aku selesaikan tugasku di kampus, menguji mhs (UTS) dan di kantor (menyiapkan buku Al-Ikhlash untuk acara Pameran Buku Bandung), dengan catatan aku perlu waktu pada minggu berikutnya untuk menyelesaikan masalah keluargaku. Selama itu pula aku tidak membicarakan masalah Dhe kepada Reza. Aku berusaha untuk bersikap biasa, dan memberi semangat kepadanya untuk menghadapi ujian tanggal 13 Januari.

Sabtu, 13 Januari 2007

Hari ini anakku ujian lisan di kampusnya. Sejak tadi malam, kepalaku sakit.. Mungkin karena stres, harus membicarakan masalah Reza kepada suamiku..
Alhamdulillah, Reza lulus dengan nilai yang baik kali ini, padahal sesi sebelumnya ia gagal! Rupanya, karena sudah merasa lepas beban, ia bisa belajar dengan baik. Aku jadi ingat, setahun ke belakang, aku merasa sikap Esa jadi beda. Ia lebih sensitif, dan cenderung menutup diri. Kadang aku lihat sikapnya seperti sedang menanggung beban berat. Kalau kutanya, ia selalu menjawab, ”nggak ada apa-apa”.

Malamnya, aku coba bicara kepada Aan, tentang masalah Reza. Dapat Anda bayangkan, bagaimana kaget, marah, dan sakit hatinya seorang ayah mendengar berita seperti ini.. Anaknya menikah diam-diam! Dianggap apa kami ini? Aku biarkan suamiku marah kepada anak kami. Ini PENTING! Anakku harus menerima risiko itu. Suamiku pun harus keluar emosinya. Aku takut, bila ia memendam amarahnya, malah ia yang akan jatuh sakit. Alhamdulillah, Allah Maha Besar, setelah emosinya reda, suamiku malah berkata: ” Udahlah Sa… Nasi udah jadi bubur. Mari kita bikin bubur yang enak.” Betapa indah ucapan suamiku… betapa besar jiwanya… betapa saleh sikapnya.. Ya Allah… Terima kasih… Kau berikan kesabaran dan kekuatan pada suamiku tercinta.

Selasa, 16 Januari 2007
Jam 06.00, kami berempat, aku, Aan, Reza, dan guruku, berangkat ke Serang, untuk mengklarifikasi dan menindaklanjuti masalah anak kami. Sengaja aku bawa guruku, yang juga orang Banten, yang aku anggap mampu untuk menengahi kami, bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Alhamdulillah, setibanya kami di sana pada pk.10.00, pertemuan berlangsung dengan damai. Kami mendapat penjelasan dan jawaban yang logis dan etis dari ayahanda Dhe: Betapa kuat akidah yang dipegang oleh kel. mereka, sehingga mereka tidak mengizinkan anaknya berpacaran dan berbuat maksiat; betapa meyakinkannya jawaban Esa ketika ditanya, apakah kami orang tuanya sudah tahu dan memberi izin; dan betapa Abi berkali-kali ingin mampir ke rumah kami, tapi urung, karena takut terjadi konflik, dst.
Alhamdulillah, masalah dengan besan sudah teratasi. Tinggal bagaimana membicarakan hal ini kepada ayah dan saudaraku, mertuaku, dan pamanku yang menjadi datuk di kaum kami, dan keluarga besar kami.

Rabu, 17 Januari 2007
Hari ini, sengaja aku undang kakakku Arfan, untuk datang ke Ciateul (rumah Papah), untuk membicarakan masalah Esa. Seperti telah keduga, Papah dan Arfan (satu-satunya paman Esa yang masih hidup, yang sangat sayang pada Esa) sangat kaget mendengar cerita kami. Arfan pula, orang pertama, yang mendukung tindakan Esa –walaupun menyayangkan kenapa Esa tidak bicara kepadanya— dengan mengatakan bangga memunyai keponakan yang masih memegang teguh akidah. Haree geenee... masih ada anak SMA yang takut berbuat maksiat? Dukungan selanjutnya datang dari ayahku… alhamdulillah.. Mereka malah menyarankan untuk segera mengumumkan pernikahan Esa, untuk menjaga fitnah. Selanjutnya tinggal memberitahu kakak dan adikku yang lain, mertuaku di Tasik, pamanku, dan yang lainnya. Berbagai macam komentar yang kudengar dari mereka. Tapi, secara umum, mereka menerima keadaan ini, dan siap membantu untuk pelaksanaan acara syukuran anakku. Yang juga membuatku berbesar hati adalah pernyataan dan sikap pamanku, datuk di kaumku. Ia mengatakan bahwa kami harus bangga memunyai anak yang saleh seperti Esa, yang menjaga kesucian dirinya di zaman seperti ini. Alhamdulillah…

Sabtu, 17 Februari 2007.
Hari itu kami menyelenggarakan syukuran pernikahan anak kami, Reza dan Diah (Dhe). Karena keterbatasan tempat, kami memang tidak mengundang semua teman. Karena itu, kami mohon maaf kepada teman-teman. Mohon doanya agar anak kami menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah… Amin.

Itulah cerita tentang kenapa saya sudah punya cucu. Ternyata seneng banget punya cucu tuh. Sayang cucu lain banget dengan sayang anak. Sama anak kita bisa marah, tapi sama cucu,  kita nggak akan tega. Sekarang umurnya 22 bulan, udah bisa jalan, bisa ngomong, dan bisa diajak jalan jalan bertiga: Alif, Nin Rema dan Aki Aan.

Satu hal yang perlu kita pikirkan: Bila kita melihat anak kita sudah memunyai pacar yang kelihatan sudah serius, dan kita ingin menghindari maksiat dan tuntutan Allah di akhirat kelak, tidak ada salahnya mereka kita nikahkan. Tentu saja dengan berbagai kondisi yang perlu kita bicarakan bersama, misalnya tinggal gantian di rumah orang tua masing-masing, uang kuliah ditanggung masing-masing orang tua, dan tunda kehamilan sampai istri selesai kuliah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: