“DOSA” POLIGAMI DI MATA KARTINI*)

Pernah dengar kalimat “Habis Gelap Terbitlah Terang”? Ya, memang kalimat itu adalah judul sebuah buku yang ditulis Armijn Pane, yang merupakan kumpulan surat RA Kartini kepada sahabat-sahabatnya. Pernahkah Anda membaca buku tersebut? Saya kira sebagian besar masyarakat Indonesia, terutama kaum perempuan, pernah membaca buku tersebut. Tidak seperti saya, yang baru beberapa hari yang lalu tertarik membaca buku itu karena ingin mengetahui bagaimana proses lahirnya emansipasi wanita di mata seorang Kartini. Belum selesai saya membaca buku itu, saya tertarik dengan salah satu isi suratnya kepada Nona Zeehandelaar, tanggal 6 November 1899, yang mengemukakan pendapatnya tentang “dosa” poligami dalam agama Islam, sebagai berikut:
“Aku tiada, sekali-kali tiada dapat menaruh cinta. Kalau hendak cinta, pada pendapatanku haruslah ada rasa hormat dahulu, dan aku tiada dapat menghormati anak muda Jawa. Manakah boleh aku hormati yang sudah kawin dan sudah jadi bapak, tetapi meskipun begitu, oleh karena telah puas beristrikan ibu anak-anaknya, membawa perempuan lain pula ke dalam rumahnya, perempuan yang dikawininya dengan sah menurut Islam? Dan siapa yang tiada berbuat demikian? Dan mengapa pula tiada akan berbuat demikian? Bukan dosa, bukan kecelaan pula; hukum Islam mengizinkan laki-laki menaruh empat orang perempuan. Meskipun seribu kali orang mengatakan, beristri empat itu bukan dosa menurut Islam, tetapi aku, tetap selama-lamanya aku mengatakan itu dosa. Segala perbuatan yang menyakitkan sesamanya, dosalah pada mataku. Betapakah azab dan sengsara seorang perempuan, bila lakinya pulang ke rumah membawa perempuan lain, dan perempuan itu harus diakuinya perempuan lakinya yang sah, harus diterimanya jadi saingannya?”

Membaca sekilas pernyataan tersebut, saya mendapat kesan betapa emosionalnya Kartini dalam mengungkapkan bahwa poligami adalah perbuatan dosa, walaupun ia tahu bahwa agama Islam yang dianutnya membolehkan seorang laki-laki beristri sampai empat orang. Betapa beraninya ia menentang suatu keadaan yang dibenarkan dalam Al-Quran, petunjuk hidup umat Islam. Apalagi ketika saya baca lebih jauh, Kartini ternyata lahir dari seorang istri kedua! Betapa beraninya Kartini mengatakan hal itu. Bukankah dengan mengemukakan hal itu berarti ia mencela tindakan ayahnya, mencoreng nama baik keluarganya sendiri? Mengapa Kartini bisa berpendapat seperti itu? Setelah saya baca lebih jauh, saya melihat, justru karena merasakan sendiri situasi dan kondisi poligami dalam keluarganyalah yang membuat Kartini menjadi kritis. Dan sikap kritisnya itu tumbuh karena kesempatan yang diberikan ayahnya untuk memperoleh pendidikan yang sama dengan saudara laki-lakinya. Ironis bukan?

Selayang Pandang tentang Kartini

Kartini dibesarkan dalam lingkungan adat istiadat Jawa yang memandang perempuan hanya dari sisi kewajibannya saja tanpa memperhatikan hak-hak mereka. Pada waktu itu, perempuan priyayi yang sudah berusia 12 tahun akan dikurung dan dipingit oleh orang tuanya sekian lama sambil menunggu dinikahkan dengan pria yang tidak mereka kenal. Walaupun Kartini sempat dipingit pada usia 12 tahun, ia beruntung karena ayah yang menyayanginya itu tidak memaksa Kartini untuk menikah dengan pria yang tidak dikenalnya. Selama 4 tahun dipingit Kartini menghabiskan waktunya dengan membaca. Dengan membaca buku, ia semakin tahun betapa berbedanya kedudukan perempuan Jawa dengan perempuan Belanda teman sekolahnya.
Pada saat dipingit, perempuan Jawa dididik untuk menjadi pelayan bagi suami dan anak-anaknya, dengan segala kewajibannya, tanpa diimbangi dengan hak mereka sebagai perempuan. Mereka hanya dididik untuk menjadi Raden Ayu, sebutan untuk seorang istri di kalangan ningrat. Mereka harus siap untuk dinikahkan, setiap saat, dengan laki-laki pilihan orang tuanya, laki-laki yang tidak dikenalnya, melayani laki-laki tersebut dan menjadi ibu dari anak-anaknya. Kelak mereka pun harus mau menerima bila suatu saat suaminya membawa perempuan lain sebagai istrinya untuk tinggal bersama mereka! Poligami menjadi suatu hal yang biasa, lumrah, dan tidak pernah dipermasalahkan.
Kenyataan seperti itulah yang membuat Kartini merasa betapa tidak adilnya perlakuan adat terhadap kaum perempuan. Mereka diperlakukan berbeda dengan laki-laki. Perempuan hanya dipandang sebagai objek kaum laki-laki. Perempuan hanya dibebani setumpuk kewajiban untuk melayani kaum laki-laki, tanpa diimbangi dengan hak mereka sebagai perempuan, yang juga punya perasaan dan keinginan. Keinginan untuk mendapatkan pendidikan, untuk menentukan sendiri laki-laki yang akan menjadi suaminya, dan untuk mendidik anak mereka dengan ilmu yang dimilikinya. Sementara itu, kaum lelaki dijadikan raja, tempat perempuan mengabdikan diri, dan menjadi budak. Selain bebas memperoleh kesempatan pendidikan, laki-laki pun bebas menentukan perempuan mana yang akan dijadikan istrinya, dan bebas pula untuk menikahi perempuan lain walaupun ia sudah beristri.

Kartini dan Emansipasi

Pemahaman Kartini yang dalam tentang arti perempuan dalam kehidupan laki-laki, yang juga berdasarkan Islam, dapat kita lihat dalam suratnya yang lain kepada Nona Zeehandelar, serta Tuan dan Nyonya Anton sebagai berikut:
“Allah menjadikan perempuan akan jadi teman laki-laki, dan tujuan hidupnya adalah bersuami. Benar, tiada tersangkal dan dengan senang hati aku mengakui bahwa bahagia perempuan yang sebenarnya, berabad-abad kemudian pada ini pun demikian juga, ialah: hidup bersama-sama dengan laki-laki dengan damai dan selaras! Tetapi betapakah mungkin hidup bersama-sama dengan damai dan selaras, bila aturan kawin kami demikian, seperti yang kuuraikan itu?”

“Alangkah berbahagianya laki-laki, bila perempuannya bukan saja menjadi pengurus rumah tangganya, ibu anak-anaknya saja, melainkan juga menjadi sahabatnya, yang menaruh minat akan pekerjaannya itu. Hal yang sedemikian itu tentulah berharga benar bagi kaum laki-laki, yaitu bila dia bukan orang yang picik pemandangannya dan angkuh. Kami di sini meminta, yang memohonkan, meminta dengan sangatnya supaya diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan itu saingan orang laki-laki dalam perjuangan hidup ini – oleh sebab sangat yakin akan besar pengaruh yang mungkin datang dari kaum perempuan – hendak menjadikan perempuan itu lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan oleh alam sendiri ke dalam tangannya; menjadi ibu – pendidik manusia yang pertama-tama”.

Saya terkagum-kagum dengan pemikiran Kartini tentang perempuan. Betapa tidak! Mengapa justru dari seorang Kartini, yang lahir dari seorang istri kedua, tumbuh pemikiran yang sangat mendalam tentang hakikat perempuan. Dari seorang anak perempuan yang mempunyai kedekatan emosional dengan ayahnya, tetapi tidak mempunyai kedekatan emosional dengan ibunya! Menurut Kartini, di tangan para perempuan lah terletak nasib generasi penerus. Bagaimana mungkin akan lahir generasi penerus yang lebih baik dari mereka, bila sang ibu, sebagai pendidik pertama anak-anak mereka, tidak dibekali pengetahuan yang layak. Karena itu perempuan harus diberi kesempatan yang sama dengan kaum laki-laki dalam bidang pendidikan. Itulah yang menjadi cita-cita Kartini, persamaan hak antara kaum perempuan dan kaum laki-laki dalam memperoleh pendidikan, atau yang lebih kita kenal dengan istilah emansipasi.
Dari surat-suratnya tersebut, dapat kita lihat ternyata emansipasi versi Kartini hanyalah emansipasi sederhana, dalam arti sempit, terbatas dalam wilayah domestik. Tetapi emansipasi perempuan sekarang sudah berkembang lebih jauh ke dalam wilayah publik. Menurut saya pribadi, hal itu sah-sah saja, selama perempuan tidak melupakan wilayah domestiknya. Seperti yang diungkapkan oleh Dr. Ratna Megawangi, dalam acara Interupsi dengan topik “Kartini Kartono” tanggal 22 April 2002 pada salah satu stasiun televisi swasta, adanya PRT (pembantu rumah tangga) memungkinkan hal itu terjadi. Sebagian tanggung jawab wilayah domestik kaum perempuan terbantu dengan adanya PRT. Atau, bisa juga tanggung jawab wilayah domestik itu diambil alih sebagian oleh seorang suami, seperti yang dilakukan oleh Ir. Dhana Darsono, suami Emmy Hafidz. Di sanalah diperlukan kebesaran hati kaum laki-laki untuk dapat menerima keadaan, berbagi tugas dengan sang istri dalam wilayah domestik perempuan. Mungkin tipe suami seperti itulah yang dimaksud Kartini dengan suami yang tidak picik pandangannya. Atau “Kartono”, figur suami ideal yang didambakan Kartini

“Dosa” Poligami

Walaupun poligami merupakan hal yang lumrah dalam adat istiadat Jawa pada waktu itu, dan juga dibenarkan oleh ajaran Islam, Kartini menganggap perbuatan itu sangat menyakitkan hati para istri. Tindakan menyakiti istri sama dengan menyakiti sesama, dan menyakiti sesama adalah perbuatan dosa. Karena itu, menurut Kartini, poligami adalah dosa!
Bila kita renungkan lebih dalam, pernyataan Kartini tentang dosa poligami tersebut justru menunjukkan betapa dalamnya pemahaman Kartini tentang dosa menyakiti sesama dan arti perempuan dalam kehidupan laki-laki. Mengapa? Selama ini, pengertian dosa, terutama dosa menyakiti sesama, selalu kita pahami dan maknai dengan perbuatan menyakiti orang lain, selain orang tua kita. Sering kita dengar ungkapan doraka ka kolot, doraka ka salaki, doraka ka si Fulan, dsb. Jarang sekali kita dengar ungkapan doraka ka pamajikan! Seolah-olah hanya kaum istri saja yang bisa berdosa kepada suaminya, karena kekurangannya dalam berkhidmat kepada suami. Ketika ada masalah terjadi dalam rumah tangga mereka, misalnya perselingkuhan suami, yang dijadikan alasan pertama adalah kekurangan sang istri dalam menghadapi suami, dalam mengurus rumah tangga, dalam mengurus anaknya, dsb. Kesalahan ditimpakan kepada istri karena tidak bisa menjalankan tugas membina rumah tangga. Padahal membina rumah tangga bukan hanya tugas seorang istri, tetapi tugas berdua, suami dan istri. Mengapa selalu istri yang disalahkan dahulu? Apakah hal tersebut tidak menunjukkan ketidakmampuan sang suami dalam mendidik istrinya membina rumah tangga mereka?
Poligami adalah hal yang dibenarkan dalam Islam, bukan suatu tindakan tercela. Ada berbagai macam alasan yang dapat dikemukan oleh suami untuk melakukan poligami. Salah satu alasan yang sering kita dengar adalah karena kekurangan istri dalam satu atau banyak hal. Saya pribadi masih bisa menerima bila seorang suami melakukan poligami karena sang istri tidak dapat memenuhi kebutuhan batin suaminya selamanya, atau karena tidak bisa mendapatkan keturunan dari sang istri. Sebagaimana kita ketahui, salah satu tujuan pernikahan adalah untuk memenuhi kebutuhan seks dan memperoleh keturunan. Tetapi bila alasannya karena kekurangan istri dalam hal-hal tertentu, saya balik bertanya, apakah suami itu sendiri sudah berlaku sempurna kepada istrinya? Bukankah tidak ada manusia yang sempurna di atas dunia ini? Lalu, mengapa para suami begitu egoisnya untuk mengajukan alasan tersebut.
Lain lagi di kalangan ulama. Banyak ulama yang beristri lebih dari satu. Saking banyaknya ulama yang beristri lebih dari satu, ada lelucon yang mengatakan, “kalau belum beristri dua belum bisa disebut ulama”, atau “ulama beristri dua karena mengikuti sunnah Rasul”! Khusus di kalangan istri ulama, lelucon yang beredar adalah “untuk jadi istri di pintu surga, harus rela dimadu”! Saya menganggap ucapan itu lelucon, karena ucapan-ucapan seperti itu sangat tidak masuk akal. Bagaimana mungkin kadar seorang ulama diukur dengan jumlah istri! Bagaimana mungkin kadar perilaku yang mengikuti sunah Rasul dibuktikan dengan mempunyai beberapa orang istri. Bukankah Rasulullah menikahi wanita-wanita lain itu hanya karena menghadapi situasi darurat, dalam rangka memperjuangkan hak perempuan? Bagaimana mungkin pula seorang perempuan bisa masuk surga hanya karena mengizinkan suaminya beristri lagi, tanpa diikuti amal salih lainnya?
Walaupun demikian, dalam kenyataannya, lelucon tersebut dapat diterima sebagai hal yang lumrah terjadi dalam kehidupan masyarakat kita. Tetapi bila para suami mau merenungkan lebih jauh tentang arti perempuan dalam kehidupan mereka, saya yakin mereka akan berpikir ulang untuk melakukannya. Bukan karena ungkapan perasaan perempuan seperti Kartini. Tetapi karena seorang laki-laki tahu betul bahwa ia dilahirkan dari rahim seorang perempuan! Karena kasih sayang seorang perempuanlah, seorang laki-laki tumbuh dan berkembang menjadi dirinya. Karena kasih sayang perempuan pula, seorang laki-laki bisa beraktualisasi maksimal, baik sebagai seorang anak, suami, ayah, dan bagian dari masyarakat. Anak dari ibunya, suami dari istrinya, ayah dari anaknya! Akankan ia tega menyakiti hati perempuan, atau sesama kaum perempuan seperti ibunya, yang telah ikut membantunya mengembangkan diri secara maksimal? Atau, tegakah hatinya bila kelak, anak perempuannya pun diperlakukan sama oleh suaminya?
Melalui tulisan ini, saya mengajak kaum perempuan untuk melanjutkan cita-cita Kartini, memberdayakan diri secara maksimal dalam wilayah domestik kita. Di tangan kitalah terletak nasib generasi penerus. Dengan dukungan dan kerjasama suami kita, insya Allah akan kita bentuk generasi penerus yang lebih baik dari kita generasi kita. Bagi Anda, perempuan yang juga merambah wilayah publik, jangan lupakan wilayah domestik Anda. Jangan sampai hal ini menjadi alasan bagi suami Anda untuk berpoligami karena tetap menginginkan Anda yang mengurus wilayah domestiknya. Bravo Kartini! Bravo perempuan Indonesia!

*) Tulisan ini pernah dimuat di HU Pikiran Rakyat, April 2002

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: