BERDIRI BULU ROMAKU….

Berdiri bulu romaku… itulah yang saya rasakan ketika mengawali perkuliahan pada hari Rabu lalu, 17 Juni 2009. Hari itu hari kedua saya mengajar dan minggu pertama perkuliahan dimulai sejak UTS berakhir.

Sebagai pembuka perkuliahan, saya mulai dengan meminta komentar, pendapat, saran, atau apa yang mereka rasakan setelah mengikuti kuliah Human Relations selama 8 sesi dan UTS…. Beberapa mahasiswa menyatakan jawaban “standar”, dalam arti mereka senang dengan mata kuliah HR karena kuliah HR dapat membuat:
– Mereka lebih pede bicara di depan forum
– Mereka tahu lebih dalam tentang siapa teman mereka dan mengambil pelajaran dari pengalaman temannya
– Mereka lebih dekat/akrab satu sama lain
– Mereka merasakan manfaat prinsip-prinsip HR daalam membna hubungan baik dengan orang lain dan keluarga

Bukan sombong lho! Jawaban seperti itu sudah biasa saya dapatkan dari mahasiswa. Saya ingin mendapatkan sesuatu yang baru. Kebetulan mata saya menyapu seorang mahasiswa yang kelihatan sedang tidak menyimak apa yang sedang saya sampaikan. Namanya David Fernando, kelas 1 TI 02. Langsung saya ajukan pertanyaan kepadanya,” Apa yang Anda rasakan selama 8 sesi kuliah HR, David?” Ia kelihatan kaget dan tidak siap menjawab pertanyaan saya. Tapi dengan segera ia menyampaikan pernyataan yang membuat saya terkejut, terkesima, dan merinding..
“ Awalnya saya tidak suka HR. Buat saya, HR itu ngorek-ngorek orang. Buat apa sih ngorek-ngorek orang? Tapi lama-lama, saya jadi seneng, karena saya jadi banyak tahu tentang temen-temen, dan saya jadi lebih dekat dengan temen-temen di kelas…”
Terus terang, saya terkejut mendengar kalimat awal yang diucapkan David. Ini orang pertama yang menyatakan hal itu dengan ekspresinya yang khas.Tapi, saya jadi terkesima mendengar kalimat selanjutnya..saya jadi merinding…. Berdiri bulu romaku, seperti kata lagunya Hetty Koes Endang tahun 80-an sebagai pengantar tidur bayi kami saat itu.

Bagi saya, itulah kalimat paling jujur yang saya dengar selama perkuliahan semester genap 2008/2009 ini… Ada perasaan haru dalam dada yang membuat saya sempat terbata-bata untuk mengucapkan terima kasih kepada David.. Terima kasih David, untuk pernyataanmu yang membuat saya merinding…

Haru dan bangga rasanya mendengar kalimat itu.. Biasanya perasaan ini hanya saya rasakan pada saat UAS ketika mendengarkan presentasi mahasiswa tentang perubahan yang terjadi setelah mereka mengikuti kuliah HR, seperti yang telah saya ceritakan pada tulisan-tulisan awal saya dalam blog ini. Tapi sekarang, saya telah menikmati perasaan itu lebih awal. Alhamdulillah…! Hilang sudah rasa lelah dan jenuh dalam mengajar. Perasaan yang kadang-kadang mucul di tengah masa perkuliahan. Berganti dengan perasaan bangga karena bisa memberikan ilmu yang bermanfaat bagi mahasiswa. Apresiasi positif seperti yang membuat kami, para dosen HR, selalu termotivasi untuk memberikan yang terbaik kepada mahasiswa kami.

Perasaan bangga itu pula yang terus menemani saya dalam kegiatan selanjutnya. Hari itu adalah adalah hari yang padat bagi saya. Betapa tidak, hari itu saya mengajar dari pagi sampai siang. Kemudian dilanjutkan dengan rapat panitia Pameran Buku Bandung 2009 sampai sore. Dan, yang sedikit membuat saya tegang, sorenya saya harus membedah buku “The Corporate Mystic” di kampus LPKIA. Ini adalah kegiatan kedua yang diadakan LPKIA Book Lover”s Club.

Mengapa saya merasa tegang? Saya yang terbiasa membaca naskah buku dan mengeditnya agar bisa dinikmati pembaca, ternyata mengalami hambatan dalam membaca dan meringkas buku yang sudah jadi. Frame saya sebagai editor sering menghambat proses saya membaca buku tersebut. Walaupun sedikit terganggu, akhirnya bisa juga saya meringkas isi buku dan menulisnya dalam empat halaman kwarto.

Ketika saya harus mempresentasikannya, saya sempat grogi. Mengapa? Karena seluruh petinggi LPKIA hadir dalam acara bedah buku kali ini, mulai dari Ketua Yayasan, para direktur, manajer, sampai ketua program studi. Ada trauma “ takut disidang” oleh peserta, terutama petinggi LPKIA, seperti yang dialami oleh pembahas buku pada kegiatan pertama. Untunglah pada kegiatan kali ini, moderator telah menjelaskan lebih dahulu aturan main dalam bedah buku, yang diharapkan menjadi sarana berbagi/sharing di antara peserta.

Alhamdulillah, dengan keterbatasan saya, acara bedah buku dapat saya selesaikan. Acara benar-benar menjadi arena sharing para peserta. Kesan yang saya dapatkan adalah betapa hebatnya human relations para petinggi LPKIA. Mereka sangat terbiasa untuk memberi apresiasi kepada para dosen, juga dosen LB seperti saya, yang membuat kami  merasa sangat dihargai. Itu pula yang membuat saya selalu ingat dan ingin kembali mengajar di LPKIA ketika saya sempat mengundurkan diri pada tahun 1998. Apresiasi positif yang saya terima dari Pak Paulus Tamzil ketika saya mengajar selama 1996-1998 pula lah yang mengingatkan dan membuat saya kembali mengajar di LPKIA sejak 2002 sampai sekarang.

Renungan untuk kita: Jangan pernah bosan memberikan apresiasi positif kepada orang lain agar ia termotivasi untuk melakukan hal-hal positif pula.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: