KASIH IBU (KENANGAN KEPADA ALMARHUMAH IBU TERCINTA)*

Kasih ibu kepada beta
Tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi
Tak harap kembali
Bagai sang surya menyinari dunia

Setiap saya mendengar lagu itu, hati saya selalu terenyuh. Apalagi saat sekarang ini, di bulan Syawal, beberapa hari setelah seluruh umat Islam di dunia merayakan hari idul fitri, hari berkumpul seluruh keluarga dalam suasana suka cita. Mengapa? Karena hari raya kali ini adalah hari raya yang ketiga kalinya, kami sekeluarga tidak lagi berkumpul dan bergembira bersama ibunda tercinta, yang telah meninggalkan kami semua pada tanggal 20 Desember 1998.
Sesak rasanya dada saya mendengar lagu itu. Saya teringat kepada almarhumah ibu dengan segala bentuk kasih sayangnya kepada saya. Apa yang telah saya berikan kepada almarhumah semasa hidupnya untuk membalas kasih sayangnya kepada saya? Rasanya baru sedikit sekali.Tidak akan mampu untuk membalas semua kasih sayang yang beliau berikan. Berbahagialah Anda yang masih mempunyai ibu dan masih berkesempatan untuk membalas kasih sayang ibu Anda.

Saya jadi merenung, mengingat kembali betapa banyak dosa yang telah saya lakukan kepada beliau semasa hidupnya. Betapa banyak ucapan dan tindakan saya yang membuat beliau sakit hati dan bersedih, seperti yang sering beliau ungkapkan kepada sanak saudara. Dulu saya sering menganggap remeh perkataan beliau. Sekarang, saya sangat merindukan ucapan dan nasihat sederhana beliau tentang kehidupan. Saya merindukan ketajaman mata beliau yang selalu bisa melihat dan mengetahui bahwa saya sedang menghadapi masalah. Saya merindukan ucapannya yang khas, dalam bahasa Minang, bila ia sedang mengungkapkan isi hatinya yang terdalam.

Saya juga teringat kebersamaan kami pada dua tahun terakhir kehidupannya, mulai dari berobat ke dokter umum, dokter spesialis, masuk rumah sakit, sampai pada detik-detik terakhir beliau menghembuskan nafasnya. Dan, yang paling membuat hati saya terenyuh sekaligus bersyukur ke hadirat Allah Swt adalah, saya diberi kesempatan oleh Allah Swt untuk melepas kepergian beliau yang begitu tenang dan pasrah dalam menyongsong maut Hanya saya! Satu-satunya putri beliau — di samping seorang adik perempuan, menantu perempuan, dan keponakan perempuan — yang diberi kesempatan untuk menyaksikan dan mengambil hikmah dari proses bagaimana seorang manusia menghadapi sakaratul maut.

Pada waktu itu saya sering mempertanyakan dalam hati, mengapa hanya saya yang diberi kesempatan oleh Allah Swt untuk mengantar kepergian beliau. Mengapa bukan ayah kami, satu-satunya pria yang beliau cintai, yang melepas kepergiannya? Mengapa bukan kakak perempuan saya, anak perempuan pertama yang sangat beliau sayangi? Saya kemudian mengarang jawaban sendiri. Mungkin karena sayalah yang di akhir masa hidupnya selalu mendampingi urusan sakit beliau, baik ke dokter maupun ke rumah sakit. Pertanyaan saya pun terjawab.
Tapi hari ini, setelah mendengar lagu Kasih Ibu berkumandang, saya menemukan jawaban lain. Peristiwa itu adalah bentuk kasih sayang terakhir dan sepanjang masa yang beliau berikan kepada saya. Anda tentu bertanya, apa hubungannya kematian seorang ibu dengan kasih sayangnya kepada anak? Saya coba untuk menjelaskannya kepada Anda.

Sejak ibu saya meninggal, saya tidak dapat lagi merasakan kasih sayang beliau secara lahir. Saya tidak dapat lagi merasakan perhatian ibu saya ketika saya sedang menghadapi masalah. Saya tidak dapat lagi mendengar nasihat beliau yang sederhana tetapi dalam maknanya tentang kehidupan berumah tangga. Sekarang saya hanya bisa merasakan kasih sayang ibu saya secara batin melalui hikmah yang saya dapatkan ketika saya menyaksikan beliau menghadapi sakaratul maut. Itulah kasih sayang terakhir beliau kepada saya. Dengan izin Allah, diperlihatkannya kepada saya bagaimana proses ia kembali kepada-Nya, supaya saya berpikir dan mengambil hikmah dari peristiwa itu.

Dalam benak saya waktu itu, seperti yang sering saya dengar dari orang, kematian adalah suatu proses yang menyakitkan bagi pelakunya dan menakutkan bagi yang melihatnya. Walaupun saya pernah menyaksikan proses kematian ibu mertua saya sepuluh tahun sebelumnya, saya tidak dapat membayangkan bagaimana saya mampu menyaksikan kepergian ibu saya menghadap-Nya. Ketika ibu mertua saya meninggal, ada ayah mertua dan kerabat lain yang mendampinginya. Sehingga saya sendiri pada waktu itu hanya menjadi pelengkap penderita. Sementara ketika ibu saya meninggal , hanya ada saya dan kerabat lain yang mendampingi. Saya yang mengingatkan beliau untuk berzikir, mengingat dan menghadapkan hati kepada Nya.

Pada saat ibu saya menghembuskan nafas terakhir, saya tidak melihat sesuatu yang menakutkan, seperti yang sering saya dengar dari orang. Saya tidak mendengar suara orang yang tersedak atau tercekik. Saya tidak mendengar suara orang yang mendengkur (ngorok). Saya bahkan tidak tahu kapan nafas ibu saya berhenti. Karena beberapa detik sebelumnya, dokter mengatakan nafas ibu masih ada. Beliau malah menyarankan saya untuk terus membimbing ibu saya berzikir. Pada saat itulah saya menyempatkan diri untuk berbicara kepada ibu saya tentang kerelaan saya melepas beliau untuk pergi, memohon maaf kepada beliau atas kekurangan dan kekhilafan saya dalam merawat beliau selama ini. Saya bisikkan kata-kata itu di telinganya. Lalu apa yang terjadi? Ketika saya mengakhiri bisikan saya, dokter menyatakan bahwa ibu saya telah berpulang. Inna lillahi wa inna lillah rojiun. Betapa damainya kepergian ibu saya.
Almarhumah ibu saya adalah seorang perempuan yang sangat berkecukupan, bahkan berlebih, dalam hal materi. Semua yang diinginkan perempuan dalam kehidupan seperti pakaian bagus, perhiasan mahal, tas dan sepatu mahal, rumah indah, dan mobil bagus, beliau miliki. Tetapi apa yang beliau bawa dalam menghadap kepada Nya? Semua harta yang beliau miliki, beliau tinggalkan. Apa yang beliau miliki sehingga beliau begitu tenang dan pasrah menghadap-Nya?

Pertanyaan inilah yang saya maksudkan sebagai bentuk kasih sepanjang masa dari seorang ibu kepada anaknya. Pertanyaan yang merupakan pelajaran tersendiri bagi saya. Dalam persepsi saya sebagai seorang anak, peristiwa ini adalah bentuk kasih sayang ibu saya sepanjang masa kepada saya sebagai anaknya. Kasih sayang dalam bentuk nyata, yang akan selalu mengingatkan saya tentang bagaimana saya harus berperilaku selama hidup di dunia ini, agar saya dapat menyongsong kehidupan di dunia akhirat dengan tenang dan pasrah, seperti yang saya saksikan ketika beliau menghadapi sakaratul maut.

Saya yakin, Anda akan bertanya apa penyakit ibu saya? Atau, bagaimana proses ibu saya menyongsong maut? Saya coba untuk sedikit bernostalgia kehidupan keluarga kami, dengan terlebih dahulu memohon maaf kepada ayah saya yang mungkin akan membaca tulisan ini. Apapun yang saya ungkapkan, semata-mata hanya untuk memperkaya wawasan pembaca tentang salah satu sisi kehidupan keluarga, yang mungkin tidak hanya terjadi di keluarga kami, tetapi juga terjadi di keluarga Anda.

Seperti yang telah saya ungkapkan, ibu saya memiliki semua yang didambakan oleh seorang perempuan dalam kehidupan. Tetapi satu hal yang paling tidak diinginkan perempuan pun, berbagi suami dengan perempuan lain, beliau miliki! Lebih dalam hal materi, kurang dalam hal moril. Pepatah Minang mengatakan, dapek nan dihati ndak dapek nan kato hati. Dapat yang diinginkan (materi), tapi tidak dapat yang menurut kata hati (moril). Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Yang sempurna, bahkan Maha Sempurna, hanyalah penciptanya, Allah Swt.

Hal itu tidak terjadi hanya sekali dalam hidup kami. Yang pertama terjadi ketika saya menginjak usia remaja. Dan yang kedua kalinya adalah ketika saya sudah berkeluarga. Syukur alhamdulillah, almarhumah ibu diberkahi Allah dengan kesabaran yang luar biasa. Dengan kesabarannya, kami dapat terus bertahan dalam satu keluarga yang utuh. Beliau tidak menuntut perceraian karena memikirkan nasib kami, enam orang putra-putrinya yang sedang menginjak masa dewasa dan remaja. Bahkan, ketika kami semua sudah berkeluarga, beliau harus mau menerima kenyataan bahwa ayah kami mempunyai seorang anak dari istrinya yang lain, yang seusia dengan cucunya, anak bungsu saya!
Segala penderitaan batinnya beliau simpan dalam hati, walaupun hal itu kemudian mengakibatkan dirinya menderita penyakit lever kronis. Penyakit hati! Penyakit lahir yang disebabkan oleh penyakit batin! Sejak tahun 1984, almarhumah diketahui mengidap tumor jinak di lever. Untuk itu beliau harus melalukan kontrol rutin ke dokter spesialis penyakit hati. Kami dinasihati dokter untuk selalu menjaga perasaan ibu kami, menyenangkan hatinya dan tidak membuatnya kelelahan.

Penyakit ini memang tidak menunjukkan gejala fisik yang luar biasa. Ibu kami kelihatannya sehat-sehat saja. Sesekali, ketika beliau terlalu banyak memendam perasaan, penyakitnya terasa. Karena itu, ketika suasana hatinya baik-baik saja, beliau agak lalai memeriksakan diri ke dokter. Baru pada tahun 1991, ketika beliau harus kembali berbagi suami, penyakit levernya sering terasa. Anda tentu maklum bagaimana perasaan seorang perempuan yang dimadu. Sampai akhirnya pada tahun 1997 beliau menderita batuk dan diare terus menerus, serta berat badannya terus menyusut. Ternyata, tumor jinak yang kemudian berubah menjadi sirosis itu, telah menjadi kanker. Bahkan oleh dokter, almarhumah divonis hanya akan mampu bertahan 6 bulan! Sekali lagi, kami disarankan dokter untuk selalu menjaga kondisi tubuhnya baik, menjaga perasaannya, menyenangkan hatinya dengan mengikuti apa saja yang beliau inginkan.

Manusia boleh berencana, tapi Allah jua yang menentukan. Alhamdulillah, ibu saya masih diberi usia panjang. Sejak divonis pada bulan Maret 1997, ibu dapat bertahan sampai bulan Desember 1998. Selama berobat ke dokter spesialis kanker, beliau sempat dirawat dua kali di rumah sakit Pada waktu dirawat kedua kalinya, setelah bertahan dua minggu, beliau menghembuskan nafas terakhir.

Saya masih ingat dengan jelas peristiwa hari itu, hari Minggu, 1 Ramadhan 1419 H (20 Desember 1998). Hari Sabtu sore sampai malam harinya, saya masih berada di rumah sakit. Sebenarnya malam itu giliran saya untuk jaga malam. Tapi saya juga dihadapkan pada kenyataan bahwa anak bungsu saya dan seorang keponakan yang tinggal di rumah kami, akan mulai belajar berpuasa. Saya merasa sahur pertama mereka harus saya temani. Untunglah ada adik perempuan saya yang sedang berada di Bandung. Ia menawarkan diri untuk jaga malam menemani ibu kami.
Ketika saya dan suami pamit pulang, kami sempat mohon maaf karena akan menghadapi dan memulai puasa. Waktu itu, beliau malah balik minta maaf kepada suami saya karena merasa telah merepotkan saya dengan sakitnya beliau. Saya sangat terharu mendengar perkataan ibu Saya sama sekali tidak menyangka beliau mempunyai perasaan seperti itu, bahkan mau minta maaf kepada suami saya. Kami pun pulang dengan perasaan tak menentu.

Keesokan harinya, sekitar pukul 12 siang, saya dipanggil ibu untuk menjenguk dan menghubungi dokter karena beliau merasa kesakitan. Saya sendiri di rumah, entah mengapa, sedang merasakan sakit dan linu di sekujur tubuh sehingga tidak segera datang menjenguk beliau. Baru pada pukul 13 lebih, saya bisa datang menjenguk ibu. Apa yang saya saksikan pada waktu itu? Tidak seperti biasanya, walaupun kulitnya sudah mulai menguning, ibu saya tampak cantik dan segar, berdandan rapi, lengkap dengan lipstik. Rupanya beliau minta didandani oleh adik saya, minta pakai baju hitam, minta dibedaki, dan minta lipstik merah, kesukaannya.

Ketika melihat saya datang, beliau minta dipanggilkan dokter karena beliau kesakitan. Setelah saya menelepon dokter, beliau tampak tenang, dan berkata bahwa beliau sudah pasrah untuk kembali kepada Allah karena ayah kami telah menjanjikan sesuatu, yang membuatnya pasrah. Saya tahu betul apa yang beliau inginkan, dan saya pun telah mendengar janji ayah saya tentang hal itu. Pada saat itu, di antara keluarga inti kami, memang hanya ada saya di sisi ibu. Ayah beserta saudara saya yang lain sudah pulang, dan sedang berkumpul di rumah, menyelesaikan masalah lain dalam keluarga kami.

Pada pukul 15 sore, sesuatu mulai berproses. Ibu saya tampak kegerahan, minta dihidupkan ac kamar. Padahal waktu itu ac kamar hidup, dengan suhu di bawah 20 derajat Celcius. Saya bingung melihat ibu saya membuang selimut karena kepanasan. Saya bingung, karena selama 2 minggu di rumah sakit, tidak pernah sekalipun ibu meminta ac kamar dihidupkan. Saya kemudian menelepon dokter dan ayah saya di rumah untuk segera datang. Ketika ibu saya kelihatan sesak, dokter jaga memberikan zat asam untuk membantu pernafasan beliau. Saya mulai panik melihat ibu saya sesak, dan tubuhnya mulai mendingin, serta matanya memandang ke atas, ke satu arah. Saya pikir, inikah saatnya ibu pergi?.
Saya berusaha mengingatkan ibu saya untuk tetap berzikir sambil menangkupkan kedua belah tangan dan menutupkan matanya. Anehnya, mata beliau yang sebelah kanan belum menutup penuh, seperti mengintip saya.

Tiba-tiba saya teringat ucapan kakak saya yang mengatakan bahwa ibu sempat bersedih hati karena saya marahi. Astagfirullah, saya memang sempat berkata agak keras kepada ibu saya, seminggu yang lalu. Pada waktu itu, hari sudah larut malam, beliau belum tidur juga. Saya sendiri sudah sangat lelah, sehingga saya berkata agak keras kepada ibu saya, mempertanyakan apa yang beliau pikirkan sampai tidak bisa tidur pada pukul 02 dinihari.

Melihat mata ibu saya seperti itu, saya seolah-olah diingatkan untuk mohon ampun sebelum beliau pergi. Saya bisikkan permohonan ampun dan kerelaan saya atas kepergiannya. Dan, ketika saya akhiri bisikan tersebut, ibu saya telah menghembuskan nafas terakhirnya dengan mata tertutup sempurna. Maha Pengasih, Engkau ya Allah, yang memberikan kesempatan bagiku untuk memohon ampun kepada ibundaku tercinta menjelang kepergiannya menghadap-Mu. Terima kasihku padamu Ibu, yang telah memberikan kasih sayang terakhir dan abadi dalam detik-detik terakhir hidupmu. Semoga Allah memberikan kemudahan dan kelapangan bagimu di sana.

Sekarang, dapatkah Anda bayangkan, bagaimana perasaan saya pada waktu itu?. Sampai detik ini, saya masih ingat dengan jelas dan rinci peristiwa tersebut. Peristiwa yang mengubah cara pikir saya dalam memandang kehidupan dan kematian. Kehidupan seperti apa yang harus saya jalani, agar saya dapat menghadapi sakaratul maut seperti itu. Saya masih ingat ucapan ayah , setelah beliau tiba di rumah sakit, yang mengatakan betapa cantiknya wajah ibu pada saat itu, dalam bahasa Minang dan isak tangis yang memilukan. Kata orang, wajah ibu mencerminkan kedamaian dan kepasrahannya menyambut maut.Penderitaan batinnya di dunia ini, insya allah, akan memberikan kemudahan dan kelapangan di dunia akhirat.

Seperti yang sudah sering kita dengar, bahwa ada 3 perkara yang kita bawa ke alam akhirat kelak, yaitu: amal jariah, doa anak yang saleh, serta ilmu yang bermanfaat. Alhamdulillah, ibu saya telah memiliki dua hal, amal jariah yang selalu beliau lakukan dan ilmu yang bermanfaat, paling tidak bagi kami, anak perempuannya dalam mengarungi kehidupan. Tetapi doa anak yang saleh? Apakah kami, anak-anaknya , termasuk anak yang saleh, yang langkah dan doa kami dapat mengantar ibunda kami ke tempat yang indah, yang dijanjikan Allah Swt? Tidak ada seorang pun yang dapat memastikan bahwa kami, khususnya saya, adalah anak yang saleh, kecuali Dia, Sang Pencipta kita. Saya hanya dapat berharap dan berusaha untuk menjadi anak yang saleh, dengan cara menjalankan segala perintah-Nya dan meninggalkan yang dilarang-Nya.Sekali lagi, saya hanya berusaha. Allah jua yang menentukan.

Ibu saya, seperti para ibu lainnya, hanya memberi, tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia. Tetapi, sebagai seorang makhluk yang diberi akal dan perasaan, tak tergerakkah hati kita untuk membalas kasih sayang yang ibu kita berikan? Selagi ibu Anda masih ada, sempatkan untuk memberikan yang terbaik yang Anda punyai baginya. Tidak harus dalam bentuk materi, tetapi moril yang lebih utama. Mengapa? Bila Anda telah menjadi seorang ibu, seperti saya, tidak ada yang lebih membahagiakan hati seorang ibu, selain perkataan yang manis dan tindakan yang santun (akhlak yang baik) dari seorang anak terhadap ibunya. Jadi, mengapa harus menunggu ibu Anda pergi, untuk membalas kasih sayangnya kepada Anda? Bukankah Rasulullah pernah bersabda dalam hadis sahih Bukhari sbb:
Datang seorang laki-laki kepada Rasulullah saw. dan bertanya: “Wahai Rasulullah! Siapakah yang paling berhak saya pergauli dengan baik?” Jawab beliau: “Ibumu!” Tanya orang itu: “Sesudah itu siapa?” Jawab beliau: “Ibumu!” Tanya: “Kemudian itu siapa lagi?” Jawab beliau: “Ibumu!” Tanya: “Siapa lagi?” Jawab beliau: “ Kemudian itu bapakmu.”

*) Tulisan ini pernah dimuat di HU Pikiran Rakyat, 31 Desember 2001 dengan judul “Renungan tentang Kematian dan Kasih Ibu”

1 Response so far »

  1. 1

    bundamahes said,

    hmmm…masih bisa dikatakan “beruntung” anda masih mengenal ibu sedetail itu, daripada saya yang cuma memiliki sekelumit memori, hanya sekelumit

    salam kenal


Comment RSS · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: